Koma.id– Distribusi pangan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional, terutama bagi Indonesia yang memiliki wilayah kepulauan dengan rantai distribusi yang panjang dan kompleks. Kondisi tersebut membuat proses pengiriman pangan dari sentra produksi hingga ke masyarakat menghadapi berbagai potensi kerawanan, mulai dari gangguan distribusi hingga ketidakmerataan pasokan.
Kombes Pol Kamal Bahtiar menggagas proyek perubahan bertajuk “Transformasi Tata Kelola Kolaborasi Deteksi Dini Pengamanan Distribusi Pangan” sebagai upaya memperkuat pengawasan terhadap rantai distribusi pangan. Gagasan tersebut dilatarbelakangi kebutuhan untuk membangun sistem yang mampu mengantisipasi berbagai risiko secara lebih cepat dan terkoordinasi.
Menurut Kamal, tantangan distribusi pangan tidak dapat ditangani oleh satu instansi secara sendiri-sendiri. Sebab, data dan informasi terkait distribusi pangan masih tersebar di berbagai kementerian dan lembaga, sementara mekanisme pertukaran informasi serta koordinasi dinilai belum sepenuhnya terintegrasi.
“Kami mendorong transformasi dari pola kerja sektoral menjadi kolaboratif, dari reaktif menjadi prediktif dan preventif, serta dari data yang terfragmentasi menjadi informasi strategis yang terintegrasi,” kata Kamal, Selasa (29/9/2026).
Melalui proyek tersebut, kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait menjadi salah satu strategi utama. Integrasi data dan penguatan koordinasi diharapkan dapat membantu mendeteksi potensi gangguan distribusi sejak dini sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum persoalan berkembang lebih luas.
Kemudian transformasi tata kelola tersebut diharapkan memberikan kontribusi terhadap kelancaran distribusi, menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan serta stabilitas nasional.
“Sebuah transformasi tidak dapat berjalan sendiri. Kolaborasi membutuhkan kesamaan tujuan, komitmen dan dukungan dari berbagai pihak agar setiap informasi dapat terhubung, setiap potensi risiko dapat dikenali lebih awal dan setiap langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat,” tuturnya.
Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis deteksi dini, pengamanan distribusi pangan diarahkan tidak hanya untuk merespons persoalan setelah terjadi, tetapi juga mengantisipasi potensi gangguan sejak awal. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga rantai pasok pangan tetap aman dan lancar sebagai bagian dari penguatan ketahanan nasional.
“Karena menjaga distribusi pangan adalah kerjasama pangan aman distribusi lancar, menuju Indonesia emas,” pungkasnya.








