Koma.id, Jakarta – Layar sinema di Bumi Ruwa Jurai kembali menghadirkan karya visual yang sarat makna.
Film bertajuk Ageman hadir menyuguhkan pesan mendalam tentang indahnya merawat keharmonisan di tengah lanskap masyarakat yang heterogen.
ANANDA BERSINAR Jadi Program Unggulan, Suyudi Ario Seto Dinobatkan Jadi Tokoh Anti Narkoba 2026
Diambil dari bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, kata Ageman secara harfiah berarti pakaian, pedoman, atau keyakinan.
Judul ini menyimpan filosofi mendalam bahwa identitas suku, ras, budaya, hingga agama merupakan amanah yang melekat sejak lahir untuk saling mengenal dan melengkapi bukan untuk memicu kebencian apalagi memisahkan.
Film yang disutradarai Jasper Lance Piscasio dan diproduseri Ken Setiawan ini terbilang unik.
Selain mengangakat kisah inspiratif perjalanan hidup Ken Setiawan yang kini aktif mengampanyekan perdamaian, jajaran pemainnya merangkul jajaran pejabat Pemprov Lampung, akademisi, tokoh budaya hingga tokoh lintas agama secara nyata.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Dra. Hanita Farial, M.Si. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Lampung ini tampil beradu peran sebagai seorang guru yang sarat nilai edukasi.
Dalam salah satu adegan rapat sekolah, karakter yang dimainkan Hanita berdiskusi hangat bersama Kepala Sekolah yang diperankan langsung oleh Ibu Gubernur Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza serta Ibu Sekda Provinsi Lampung, Agnesia Bulan Rurianti.
Rapat tersebut juga diisi oleh jajaran kepala dinas lain yang memerankan sosok pendidik, seperti Thomas Amirico (Kadisdikbud), Ganjar Jationo (Kadiskominfotik), dan Tony Ferdinansyah (Kadisparekraf).
Diskusi tersebut menyoroti keprihatinan bersama terkait masih rendahnya tingkat literasi masyarakat di era derasnya arus media sosial.
Imbas minimnya literasi ini kerap memicu maraknya penyebaran berita bohong (hoax), di mana masyarakat kerap menjadi korban sekaligus pelaku karena mudah membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Tak hanya soal hoax, fenomena tawuran pelajar, perundungan (bullying), hingga sikap intoleransi di lingkungan sekolah turut menjadi bahasan krusial.
Pasalnya, benih-benih perundungan dan intoleransi dapat menjadi pintu masuk terpaparnya anak pada paham radikalisme dan ekstremisme.
Lewat perannya, Hanita menegaskan pentingnya keberanian peserta didik untuk bersuara dan melaporkan setiap indikasi tindakan perundungan kepada pihak sekolah.
Ia menyampaikan harapan agar dunia pendidikan ke depan tidak hanya berfokus membuat anak mampu membaca dan menghafal soal, tetapi juga membentuk siswa yang berpikir kritis, emosional stabil, serta mampu menciptakan solusi atas permasalahan di sekitarnya.
Sementara itu, Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap pesan inklusif dalam film ini dapat mengetuk hati seluruh lapisan masyarakat.
“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai di tengah perbedaan.
Harapannya, Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” pungkas Firsada.














