Koma.id – Santri Jalanan Indonesia 08 (Satria 08) menyampaikan pandangannya mengenai figur yang dinilai layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang. Organisasi tersebut menilai regenerasi kepemimpinan di tubuh PBNU perlu menghadirkan sosok yang mampu melakukan pembaruan sekaligus menjaga soliditas organisasi.
Ketua Satria 08, Budiyanto Hadinogoro, menyebut Abdussalam Shohib atau Gus Salam dan Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf sebagai dua tokoh muda Nahdlatul Ulama yang memiliki kapasitas untuk membawa pembaruan, baik dari sisi kultural maupun struktural.
“Gus Salam dan Gus Yusuf saja. Kedua calon ini dinilai mampu melakukan pembaruan, baik secara kultural maupun struktural,” ujar Budiyanto dalam keterangannya.
ISESS Dukung Kortas Tipikor Usut Tuntas Dugaan Korupsi Batu Bara dan Desak Penyidikan Diperluas
Menurut Budiyanto, Gus Yusuf merupakan tokoh muda NU asal Jawa Tengah yang berasal dari lingkungan pondok pesantren dan merupakan putra almarhum KH. Yusuf Chudlori. Ia menilai Gus Yusuf memiliki pengaruh yang kuat di kalangan warga NU di Jawa Tengah.
Sementara itu, Gus Salam dinilai sebagai salah satu tokoh muda NU yang memiliki posisi penting di Jawa Timur. Budiyanto berpandangan, jika kekuatan dua wilayah basis utama NU, yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur, dapat dipadukan dalam kepemimpinan PBNU, maka akan tercipta suasana organisasi yang lebih harmonis.
Ia bahkan mengusulkan komposisi kepemimpinan yang memadukan kedua figur tersebut, dengan salah satunya menjabat sebagai Ketua Umum PBNU dan lainnya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal.
Selain memberikan dukungan terhadap kedua tokoh tersebut, Satria 08 juga berharap proses regenerasi kepemimpinan PBNU berlangsung dengan mengedepankan semangat persatuan. Budiyanto menegaskan, praktik-praktik yang berpotensi memicu perpecahan di internal organisasi sebaiknya dihindari demi menjaga marwah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia.
“Kami berharap ke depannya tidak lagi ada praktik akar-akaran di tubuh NU. Hal ini agar jika dilihat oleh organisasi lain NU terlihat lebih dewasa dalam berorganisasi. Ingatlah, NU adalah organisasi Islam terbesar di dunia. Jangan sampai hanya demi kepentingan segelintir kelompok, demi melanggengkan keinginan pribadi atau golongan, persatuan NU menjadi terpecah belah,” katanya.
Satria 08 juga mendukung penuh pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU digelar di Pesantren Tambakberas Jombang. Pasalnya kawasan tersebut memiliki nilai historis yang kuat bagi Nahdlatul Ulama karena merupakan tanah yang berkaitan dengan almarhum KH. Wahab Hasbullah, pendiri Pondok Pesantren Tambakberas, sekaligus menjadi salah satu tempat yang memiliki keterkaitan dengan sejarah berdirinya NU dan pernah dihuni oleh tokoh besar NU, KH. Hasyim Asy’ari.







