Koma.id | Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) sekaligus Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sudaryono, meminta peternak ayam pedaging dan petelur menyesuaikan kalender produksi dengan jadwal sekolah. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga ayam dan telur di tengah liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sudaryono menjelaskan, penurunan harga ayam dan telur belakangan ini terjadi akibat berkurangnya permintaan dari program MBG yang ikut berhenti selama masa libur sekolah.
“Salah satu rekomendasi dari rapat ini, kita ingin bagaimana peternak bisa menyesuaikan kalender produksinya agar sejalan dengan kalender libur anak sekolah,” ujarnya di Kantor Kementerian Pertanian.
Menurutnya, program MBG selama ini menciptakan permintaan besar terhadap komoditas ayam dan telur, bahkan mendorong lahirnya peternak baru. Namun, ketika program berhenti sementara, pasokan melimpah tidak diimbangi permintaan sehingga harga turun.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menambahkan bahwa ketidakseimbangan supply dan demand menjadi penyebab utama penurunan harga.
“Pada saat suplai melimpah namun demand turun, harga ikut jatuh. Karena itu, penyesuaian harga acuan pembelian (HAP) di tingkat peternak menjadi solusi,” jelasnya.
Pemerintah bersama asosiasi peternak telah sepakat menetapkan harga acuan baru mulai 15 Juli 2026. Harga ayam hidup (live bird) dipatok minimal Rp 19.500 per kilogram, sementara telur ayam Rp 24.000 per kilogram. Kebijakan ini diharapkan menjaga kesejahteraan peternak sekaligus memastikan harga di tingkat konsumen tetap sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET).
Sudaryono menegaskan, kebijakan ini bertujuan menyeimbangkan rantai pasok pangan agar efisien.
“Gap antara harga pokok produksi (HPP) dan HET tidak boleh terlalu besar. Kita ingin peternak tetap untung, konsumen tidak terbebani,” pungkasnya.








