Koma.id | Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (KAI) kembali mencatat penurunan signifikan atas investasi di proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh. Laporan keuangan per akhir 2025 menunjukkan saldo investasi KAI terkuras hingga Rp4,48 triliun dalam dua tahun terakhir.
KAI menanggung rugi investasi melalui konsorsium pengendali Whoosh, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), masing-masing Rp2,22 triliun pada 2024 dan Rp2,92 triliun pada 2025. Akibatnya, saldo investasi yang sempat mencapai Rp7,72 triliun setelah setoran tambahan Rp2,7 triliun kini tinggal Rp3,24 triliun.
Manajemen KAI juga membentuk cadangan penurunan nilai investasi (impairment) sekitar Rp1,55 triliun. Langkah ini dilakukan di tengah tekanan finansial yang dihadapi PSBI, yang sepanjang 2025 mencatat rugi Rp4,98 triliun, naik 18,89% dibanding tahun sebelumnya.
IJTI Kecam Manajemen Apartemen Saladin Depok
Kerugian PSBI terutama dipicu beban bunga utang jumbo dari China Development Bank (CDB) serta selisih kurs. KAI mengikat dua fasilitas pinjaman dengan CDB, yakni US$325,62 juta dalam bentuk dolar AS dengan bunga 3,2% per tahun, serta pinjaman renminbi setara US$217,08 juta dengan bunga 3,1% per tahun.
Posisi ekuitas PSBI per akhir 2025 merosot tajam menjadi Rp5,1 triliun, turun 64,2% dari Rp14,26 triliun pada 2023. Rasio liabilitas terhadap aset mencapai 79,8%, menandakan sebagian besar aset dibiayai utang dengan bantalan ekuitas yang semakin tipis.
Eksposur KAI terhadap proyek Whoosh juga tercermin dari piutang ke PSBI yang mencapai Rp10,41 triliun, setara 10% dari total aset KAI. Dari jumlah tersebut, Rp9,16 triliun dikategorikan sebagai piutang tidak lancar. Kondisi ini menegaskan risiko finansial yang dihadapi KAI dalam menopang proyek transportasi modern tersebut.








