Koma.id– Insiden peluru nyasar kembali terjadi di lingkungan Kampus Universitas Negeri Padang (UNP) dan menjadi kasus ketujuh yang tercatat sejak 2016. Peristiwa berulang tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas latihan menembak di Lapangan Tembak Lapai dan kawasan Markas Batalyon Infanteri 133/Yudha Sakti yang lokasinya berada di sekitar kampus.
Peristiwa terbaru terjadi pada Selasa, 2 Juni 2026, saat dua mahasiswa mengalami luka tembak ketika berada di halaman Gedung Rektorat UNP. Korban diketahui bernama Guruh Guwino yang mengalami luka pada bagian tangan dan seorang mahasiswi bernama Nova yang terluka di bagian kaki.
Guruh mengaku tidak mengetahui dari mana arah datangnya peluru. Saat kejadian, suasana mendadak berubah panik setelah dua orang terlihat mengalami pendarahan tanpa penyebab yang diketahui.
Mahasiswa lain yang berada di lokasi segera meminta bantuan petugas keamanan kampus untuk memanggil ambulans dan mengevakuasi korban ke rumah sakit. Rekaman kejadian yang beredar di media sosial kemudian memicu perhatian publik setelah kuat diduga sebagai kasus peluru nyasar.
Kedua korban awalnya mendapatkan penanganan di rumah sakit swasta sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Reksodiwiryo milik TNI.
Guruh menjelaskan, saat itu dirinya sedang menemani kekasihnya yang baru menyelesaikan seminar proposal. Bersama puluhan mahasiswa lainnya, mereka berkumpul di depan Gedung Rektorat UNP untuk merayakan momen tersebut.
Ia mengatakan, saat duduk di trotoar dan hendak berdiri, dirinya mendengar suara dengungan sebelum menyadari tangannya sudah mengeluarkan darah.
“Saat itu saya sedang duduk di trotoar. Pas mau berdiri di telinga seperti ada suara dengungan dan tiba-tiba saat saya lihat tangan saya sudah berdarah,” paparnya dikutip.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Komando Daerah Militer (Kodam) I/Bukit Barisan melalui jajaran Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol melakukan penyelidikan dengan melibatkan Polisi Militer dan membentuk tim investigasi untuk memastikan sumber peluru yang mengenai korban.
Proses investigasi dilakukan dengan mengukur jarak antara lokasi kejadian dan sejumlah titik yang diduga menjadi sumber peluru, termasuk Lapangan Tembak Lapai yang berjarak sekitar 800 meter dari kampus serta Markas Yonif 133/Yudha Sakti yang berada tepat di seberang UNP.
Tim investigasi juga meminta keterangan dari berbagai pihak, mulai dari pihak kampus, petugas keamanan, korban, personel Yonif 133/Yudha Sakti hingga berkoordinasi dengan kepolisian.
TNI mengakui bahwa pada hari yang sama terdapat kegiatan latihan menembak di Lapangan Tembak Lapai sebagai bagian dari persiapan menghadapi lomba menembak tingkat nasional.
Dari hasil pemeriksaan, proyektil peluru berhasil dikeluarkan dari salah satu korban dan diketahui merupakan peluru berkaliber 9 milimeter yang biasa digunakan pada senjata laras pendek.
“Karena pada hari yang sama kita juga ada yang melakukan latihan menembak di Lapangan Tembak Lapai itu untuk persiapan lomba menembak tingkat nasional,” katanya.







