Koma.id– Wacana Reformasi Jilid II yang belakangan kembali menguat di ruang publik mendapat tanggapan dari Aktivis 98 Ray Rangkuti. Ia menilai Indonesia saat ini tidak memerlukan gelombang reformasi baru seperti yang terjadi pada 1998 karena secara kelembagaan dan sistem ketatanegaraan, berbagai perangkat demokrasi yang menjadi tuntutan reformasi telah tersedia.
Menurut Ray, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini bukanlah menciptakan reformasi baru, melainkan memastikan seluruh hasil dan agenda reformasi yang telah diperjuangkan selama lebih dari dua dekade dapat dijalankan secara konsisten oleh penyelenggara negara maupun masyarakat.
“Sejujurnya Saya melihat tidak perlu ada lagi yang perlu didesain jadi pengertian Reformasi jilid 2 dalam arti perubahan sistem saya nggak melihat lagi,” ujar Ray dalam sebuah tayangan podcast di media social.
Baginya Indonesia hari ini tidak kekurangan instrumen demokrasi. Justru menjadi persoalan adalah bagaimana seluruh instrumen, lembaga, dan prinsip reformasi itu dijalankan secara sungguh-sungguh dan konsisten.
Sehingga, apabila yang dimaksud dengan Reformasi Jilid II adalah upaya memperkuat implementasi agenda reformasi, meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan, serta membangun mentalitas warga negara dan aparatur yang lebih berintegritas, maka gagasan tersebut layak didukung. Namun, ia mempertanyakan urgensi menghadirkan reformasi baru apabila perangkat dasar yang dibutuhkan untuk menjalankan demokrasi sudah tersedia.
“Kita tidak membutuhkan Reformasi Jilid II dalam pengertian mengulang kembali gerakan reformasi seperti 1998. Yang kita butuhkan adalah menjalankan reformasi yang sudah ada secara lebih baik, lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab,” tegasnya.
Ray juga mengingatkan bahwa energi bangsa seharusnya diarahkan pada penguatan institusi, penegakan hukum, perbaikan tata kelola pemerintahan, serta peningkatan kualitas partisipasi publik dalam demokrasi. Menurutnya, fokus tersebut jauh lebih relevan dibandingkan membangun narasi perubahan besar tanpa kejelasan agenda yang ditawarkan.
“Anda mau tawarkan apa. Makanya Anda mau tawarkan apalagi,” tandas Ray.







