Koma.id | Manado – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Sulawesi Utara, menimbulkan kepanikan warga pesisir dan sempat memicu peringatan dini tsunami. Laporan sementara mencatat tiga orang mengalami luka ringan dan dua rumah rusak di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Senin (08/06).
Kepala Kantor SAR Manado, George Mercy Randang, menyebutkan pihaknya masih melakukan pendataan di lapangan.
Usulan Natalius Pigai Ditolak, Pengamat Sebut Jabatan Strategis Polri Tak Perlu Diisi Sipil
“Untuk sementara ada tiga warga luka ringan dan dua rumah rusak ringan. Perkembangan dampak gempa masih kami dalami,” ujarnya.
Salah satu korban, Asna Bawiling, dilaporkan tidak sadarkan diri dan kini mendapat perawatan di Puskesmas Rainis. Basarnas menegaskan seluruh tim masih melakukan pemantauan di sejumlah daerah terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat gelombang tsunami minor dengan ketinggian di bawah 20 sentimeter sempat terdeteksi di beberapa stasiun pemantau muka air laut. BMKG kemudian mencabut peringatan dini tsunami pada pukul 11.15 WITA setelah pemantauan menunjukkan tidak ada ancaman signifikan.
Kepala BPBD Sulawesi Utara, Adolf H Tamengkel, menambahkan gelombang yang terukur di Tahuna hanya sekitar 0,3 meter dan di Ulu Siau sekitar 0,18 meter.
“Kalau ada dampak, sangat kecil sekali. Yang paling kita khawatirkan justru gempa susulan karena hingga saat ini masih terus terjadi,” jelasnya.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada, menunda perjalanan laut yang tidak mendesak, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan otoritas terkait. Aktivitas warga di Kota Manado dan Bitung mulai kembali normal setelah status waspada tsunami dicabut.








