Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaNasional

SETARA Institute Sebut Negara Kalah dari Tekanan Intoleran Buntut Perkemahan Ahmadiyah di Karanganyar Dibubarkan

Views
×

SETARA Institute Sebut Negara Kalah dari Tekanan Intoleran Buntut Perkemahan Ahmadiyah di Karanganyar Dibubarkan

Sebarkan artikel ini
Images 8

Koma.id Kegiatan Perkemahan Pemuda Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terpaksa dihentikan lebih awal setelah mendapat tekanan dari kelompok masyarakat yang menolak pelaksanaan acara tersebut.

Kegiatan yang sedianya berlangsung selama tiga hari, mulai 5 hingga 8 Juni 2026, dibubarkan pada Jumat (5/6/2026) malam sekitar pukul 21.00 WIB.

Silakan gulirkan ke bawah

Perkemahan yang diikuti anak-anak dan pemuda Ahmadiyah itu digelar dengan mengusung tema “Nabi Muhammad SAW Pemersatu Umat Pembawa Damai”. Panitia sebelumnya merencanakan berbagai kegiatan, mulai dari olahraga, trekking, permainan tradisional hingga penguatan nilai-nilai moral bagi generasi muda.

Menurut informasi yang beredar, pembubaran kegiatan terjadi setelah adanya aksi penolakan dari kelompok yang mengatasnamakan Forum Ukhuwah Islam Solo Raya. Dalam surat pemberitahuan aksi kepada kepolisian maupun orasi yang disampaikan di lokasi, kelompok tersebut meminta aparat menghentikan kegiatan perkemahan dengan alasan perbedaan keyakinan.

Menanggapi peristiwa tersebut, SETARA Institute menyampaikan kecaman keras terhadap penghentian kegiatan Perkemahan Pemuda Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Menurut SETARA pembubaran acara yang berlangsung damai itu merupakan bentuk kegagalan negara dalam memberikan perlindungan terhadap hak-hak konstitusional warga negara, khususnya kelompok minoritas keagamaan.

Direktur Eksekutif SETARA Institute
Halili Hasan menekankan, harusnya aparat keamanan memastikan setiap warga negara dapat menjalankan aktivitas yang sah tanpa intimidasi maupun tekanan dari kelompok tertentu. Lembaga tersebut juga menyoroti penggunaan alasan menjaga ketertiban umum yang dinilai kerap berujung pada pembatasan hak kelompok minoritas, sementara pihak yang melakukan tekanan justru memperoleh apa yang diinginkan.

“Kapolri untuk melakukan pemeriksaan terhadap seluruh aparat yang terlibat dalam pembubaran kegiatan dan memastikan adanya pertanggungjawaban institusional,” kata Halili dalam keterangannya dikutip.

Halili menambahkan peristiwa di Karanganyar kembali menunjukkan masih adanya tantangan dalam pemenuhan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Bahkan Ahmadiyah telah lama menghadapi berbagai bentuk diskriminasi, mulai dari pembatasan kegiatan hingga persekusi dan pengusiran di sejumlah daerah.

Untuk itu ia meminta adanya langkah konkret untuk menjamin perlindungan kebebasan beragama dan berkeyakinan, evaluasi terhadap aparat yang terlibat dalam pembubaran kegiatan, serta penghentian praktik pembiaran terhadap tindakan intoleransi yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan amanat UUD 1945.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.