Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
EkonomiNasional

Alarm Bahaya Ekonomi! Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar AS, IHSG Terjun Bebas ke Level 5.700

Views
×

Alarm Bahaya Ekonomi! Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar AS, IHSG Terjun Bebas ke Level 5.700

Sebarkan artikel ini
dollar rupiah
Dolar Amerika Serikat dan Rupiah Indonesia.

Jakarta – Tekanan terhadap pasar keuangan domestik semakin berat. Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026), sekaligus mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,35 persen dan berada di level Rp18.028 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren tekanan terhadap mata uang Garuda yang dalam beberapa hari terakhir terus mengalami depresiasi akibat sentimen global dan meningkatnya ketidakpastian pasar.

Silakan gulirkan ke bawah

Melemahnya rupiah turut menyeret pasar saham Indonesia ke zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga pukul 09.30 WIB tercatat anjlok 3,02 persen ke level 5.760,33.

Koreksi tajam terjadi hampir di seluruh sektor perdagangan. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 547 saham mengalami penurunan, sementara hanya 88 saham yang menguat dan 321 saham bergerak stagnan.

Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia juga berlangsung cukup tinggi. Tercatat sebanyak 397,9 ribu kali transaksi dengan volume perdagangan mencapai 5,23 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp3,38 triliun.

Pada awal perdagangan, IHSG sebenarnya sudah dibuka di zona merah pada level 5.919,57. Namun tekanan jual yang terus meningkat membuat indeks bergerak turun lebih dalam hingga menyentuh kisaran level 5.700.

Kondisi ini menunjukkan tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi global maupun domestik. Pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG secara bersamaan mencerminkan meningkatnya aksi jual investor terhadap aset-aset berisiko di pasar keuangan Indonesia.

Menembusnya level Rp18.000 per dolar AS menjadi catatan penting bagi pasar keuangan nasional karena merupakan level terendah yang pernah dicapai rupiah sejak krisis moneter 1998 hingga saat ini.

Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta meredam gejolak di pasar modal yang terus mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.