Koma.id | Jakarta – Tanggal 21 Mei 1998 dikenang sebagai salah satu tonggak sejarah bangsa. Presiden ke-2 RI, Soeharto, akhirnya menyatakan pengunduran diri setelah 32 tahun berkuasa. Keputusan itu lahir di tengah krisis ekonomi, gelombang demonstrasi mahasiswa, serta kerusuhan yang menelan korban jiwa, termasuk empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta dan sejumlah warga di berbagai daerah.
Detik-detik mundur Pukul 09.05 WIB di Istana Merdeka, Soeharto dengan suara tenang membacakan pernyataan pengunduran dirinya. Tak lama kemudian, Wakil Presiden B.J. Habibie diambil sumpah sebagai Presiden RI, memastikan transisi kekuasaan berjalan sesuai konstitusi.
Heboh! Investasi Bodong Koperasi BLN Putar Dana Rp4,6 Triliun, 41 Ribu Nasabah Jadi Korban
Meski tekanan politik dan sosial begitu besar, Soeharto memilih mundur secara damai. Langkah itu menunjukkan sikap legawa seorang pemimpin yang mengutamakan keutuhan bangsa di atas kepentingan pribadi. Dengan keputusan tersebut, Indonesia terhindar dari potensi pertumpahan darah yang lebih luas.
- Krisis Moneter 1997: Rupiah terjun bebas, harga kebutuhan pokok melonjak, pengangguran meningkat.
- Tuntutan Reformasi: Mahasiswa dan masyarakat menuntut penghapusan KKN serta pembaruan politik.
- Kerusuhan Mei 1998: Penjarahan, kebakaran, dan korban jiwa di Jakarta maupun kota lain menambah tekanan.
Pengunduran diri Soeharto menandai runtuhnya Orde Baru dan lahirnya Era Reformasi. Pemerintahan Habibie membuka ruang demokrasi, kebebasan pers, dan mempercepat Pemilu 1999. Namun, sejarah juga mencatat bahwa Soeharto meninggalkan panggung kekuasaan dengan cara damai, sebuah warisan penting yang menunjukkan bahwa transisi besar bisa terjadi tanpa perang saudara.
Kini, Reformasi telah berusia 28 tahun. Banyak perbaikan dilakukan, meski tantangan baru terus muncul. Namun, momen 21 Mei 1998 tetap dikenang sebagai titik balik, ketika seorang presiden yang berkuasa lebih dari tiga dekade akhirnya memilih mundur demi Indonesia.








