Koma.id– Presiden Prabowo Subianto merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang pada penutupan perdagangan Jumat berada di level Rp17.596 per dolar AS. Menurut Prabowo, mayoritas masyarakat di desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari sehingga dampaknya tidak dirasakan secara langsung.
Ia menegaskan kondisi Indonesia masih stabil di tengah kepanikan global, dengan sektor pangan dan energi yang dinilai tetap aman. Namun di sisi lain, pelaku usaha menilai pelemahan rupiah menjadi ancaman serius karena meningkatkan biaya impor dan menekan arus kas perusahaan, terutama industri nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor.
“Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar “Indonesia akan collapse, akan chaos” Orang rakyat di desa enggak pake dolar kok,” kata Prabowo
Prabowo Blak-blakan Puji Prestasi Polri
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menjelaskan tekanan terhadap rupiah dipicu dinamika global seperti kenaikan yield US Treasury, perang geopolitik, dan perpindahan modal ke aset dolar AS. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan beban utang valas perusahaan serta mempersempit ruang ekspansi dan penyerapan tenaga kerja.
Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi tensi geopolitik di Selat Hormuz dan tingginya impor minyak mentah Indonesia untuk subsidi BBM. Ia bahkan memperkirakan rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS jika tekanan global terus berlanjut.







