Koma.id– Salah satu tersangka dalam kasus dugaan penyebaran informasi terkait ijazah Presiden ke-7 RI, Rismon Sianipar, menyampaikan klarifikasi mengejutkan terkait hasil penelitiannya yang selama ini menjadi sorotan publik.
Dalam sebuah video pernyataan terbaru, Rismon secara terbuka mengakui adanya kekeliruan dalam analisis yang sebelumnya ia tuangkan dalam bukunya. Ia menjelaskan bahwa kesalahan tersebut terjadi karena data yang digunakan saat pengujian awal tidak lengkap.
“Sebagai peneliti yang bertanggung jawab terhadap kebenaran ilmiah, saya secara terbuka menyatakan ada koreksi-koreksi akibat data yang tidak lengkap,” ujar Rismon dalam pernyataannya.
Rismon menjelaskan, kekeliruan dalam analisis sebelumnya dipengaruhi sejumlah faktor teknis, seperti rotasi, translasi, hingga resolusi data yang digunakan dalam proses pengujian. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat hasil analisis awal tidak sepenuhnya akurat.
Karena itu, ia memutuskan menarik kembali sejumlah pernyataan sebelumnya yang dinilai menyudutkan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Dalam pernyataannya, Rismon juga menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Jokowi. Ia mengakui bahwa temuan yang sebelumnya ia sampaikan telah menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat serta berdampak pada pihak keluarga Presiden.
“Temuan saya sebelumnya telah melukai keluarga Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri. Saya sebagai peneliti menyatakan minta maaf secara gentleman,” tuturnya.
Penulis buku setebal lebih dari 400 halaman terkait topik tersebut menegaskan bahwa langkah meminta maaf merupakan bentuk integritasnya sebagai seorang ilmuwan. Menurutnya, objektivitas dan kebenaran ilmiah harus selalu ditempatkan di atas kepentingan lain.
Rismon juga mengeklaim bahwa permintaan maaf yang ia sampaikan tidak dilakukan karena adanya tekanan dari pihak mana pun. Ia menyebut keputusan tersebut murni diambil setelah menemukan fakta baru dari hasil uji laboratorium terbaru.
Ia pun menyatakan siap mempertanggungjawabkan pengakuan tersebut di ruang akademis, meskipun menyadari langkahnya kemungkinan akan menimbulkan pro dan kontra, termasuk dari kalangan pendukungnya selama ini.







