Koma.id — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung kembali menekankan pentingnya pengurangan penggunaan kendaraan pribadi oleh warga Ibu Kota. Ia mengajak masyarakat untuk secara bertahap beralih ke transportasi umum dan ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya mengurangi kemacetan dan polusi udara.
Pramono menyampaikan hal itu saat menghadiri peringatan Hari Transportasi Nasional di Jakarta, Selasa (20/1/2026). Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa ketergantungan pada kendaraan pribadi harus dikurangi secara total demi terciptanya mobilitas yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan.
“Kalau kita ingin Jakarta menjadi kota yang bersih, tanpa kemacetan kronis, tentu kita harus meninggalkan kendaraan pribadi secara total dan beralih ke transportasi umum,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta.
Transportasi Umum Dikuatkan
Menurut Pramono, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat layanan transportasi umum, seperti TransJakarta, Jakarta MRT, LRT Jabodebek, dan KRL Commuter Line, sehingga menjadi alternatif yang layak dibandingkan kendaraan pribadi.
Ia juga menyinggung rencana integrasi layanan, termasuk perluasan jangkauan rute dan penambahan frekuensi perjalanan, agar masyarakat dapat menggunakan transportasi umum dengan lebih nyaman tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
“Kalau semua moda transportasi umum terintegrasi dengan baik, kita yakin orang akan beralih dan tidak lagi bergantung pada kendaraan pribadi,” tambah Pramono.
Dampak Lingkungan dan Kualitas Udara
Pramono menegaskan bahwa pengurangan kendaraan pribadi secara signifikan juga akan berdampak positif terhadap kualitas udara di Jakarta, yang selama ini menjadi salah satu isu utama akibat tingginya emisi gas buang.
Ia menyampaikan bahwa upaya ini juga sejalan dengan program Pengendalian Pencemaran Udara Kota Jakarta, yang melibatkan berbagai sektor termasuk pengembangan transportasi umum, penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, serta kampanye mobilitas berkelanjutan.
Strategi Transportasi Hijau Jakarta
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemprov DKI Jakarta telah mendorong sejumlah langkah strategis untuk mempromosikan transportasi hijau, seperti:
• Perluasan jaringan MRT dan LRT untuk menghubungkan lebih banyak wilayah di Jabodetabek.
• Optimalisasi layanan TransJakarta dengan koridor baru dan bus listrik.
• Program pembatasan kendaraan pribadi melalui penyempurnaan sistem ganjil-genap yang lebih dinamis.
• Peningkatan fasilitas pejalan kaki dan jalur sepeda agar mendukung mobilitas tanpa kendaraan bermotor.
Kebijakan ini juga mendapat dukungan dari sejumlah pakar transportasi publik yang menilai bahwa reduksi kendaraan pribadi merupakan langkah penting dalam mengurai kemacetan di kota besar serta mewujudkan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan nyaman.
Namun, sebagian kritikus mengingatkan bahwa pergantian kebiasaan masyarakat membutuhkan pemberdayaan fasilitas terlebih dahulu agar transportasi umum benar-benar kompetitif dan dapat menyaingi kenyamanan kendaraan pribadi.
Respons Publik
Sikap Pramono tersebut memicu respons dari berbagai kalangan. Beberapa warga menyambut baik ajakan tersebut dengan menyatakan dukungan terhadap pengembangan transportasi umum, sementara lainnya menilai bahwa fasilitas saat ini masih perlu peningkatan agar benar-benar layak menjadi pengganti kendaraan pribadi.
Pemprov DKI Jakarta menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, operator angkutan umum, serta pemangku kepentingan lainnya untuk mewujudkan mobilitas yang lebih baik di ibu kota.













