KOMA.ID, JAKARTA – Wakil Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), Novel Bamukmin, menegaskan bahwa TPUA telah melepaskan diri dari konflik politik antara PDI Perjuangan, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, dan kubu yang dikaitkannya dengan Anies Baswedan.
Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Eggi Sudjana Mastal dan Damai Hari Lubis yang dinilai berhasil melakukan upaya pelepasan diri dari polemik tersebut.
“Langkah Bang Eggi dan Damai Hari Lubis sebagai upaya mengembalikan TPUA ke khitah perjuangan awal bersama spirit 212,” kata Novel Bamukmin, Jumat (16/1/2026).
Novel menilai kegaduhan isu dugaan ijazah palsu Presiden Jokowi tidak memberikan manfaat bagi rakyat dan justru mengalihkan perhatian publik dari persoalan bangsa yang lebih substansial.
Dalam keterangannya, Novel menyebut TPUA sejak awal berdiri berhadapan dengan pemerintahan Jokowi dan PDIP.
“TPUA yaitu Tim Pembela Ulama dan Aktivis dibentuk untuk membela para ulama dan aktivis dari jerat Kriminalisasi pemerintahan Jokowi sebagai petugas partai PDIP,” ujarnya.
Pasca Pilpres 2024 dan terpilihnya Prabowo Subianto sebagai Presiden RI ke-8, Novel menilai konflik antara kubu Jokowi dan PDIP semakin terbuka. Ia menegaskan TPUA tidak boleh terseret dalam pertarungan tersebut.
“Cukup dengan menonton saja ambil tiker minum kopi tonton cebong dengan cebong perang,” tandas Novel.
Novel juga menyoroti langkah Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis yang bertemu Presiden Jokowi di Solo. Menurutnya, pertemuan itu bertujuan melepaskan TPUA dari kepentingan politik tertentu dan berujung pada terbitnya SP3.
“Akhirnya membuahkan hasil yaitu dengan terbitnya SP3,” tukasnya.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai keputusan strategis yang menyelamatkan TPUA dari bayang-bayang PDIP dan Anies Baswedan.
“Jadi jelas Bang Eggi Sudjana dan Bang Damai Hari Lubis telah menyelamatkan TPUA,” pungkas Novel.













