Koma.id– Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, Prof. Adrianus Meliala, menegaskan bahwa arah reformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) harus difokuskan pada perbaikan aspek negatif tanpa mengubah hal-hal yang sudah berjalan positif di tubuh kepolisian.
“Jangan kita melebar mengubah struktur tapi ubahkan yang menjadi penyakitnya aja seperti budaya organisasi kerja dan budaya kelompok,” kata Adrianus, dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi III DPR. Kamis (8/1/2025).
Lebih lanjut, Adrianus mendorong penerapan mekanisme klasifikasi, penilaian satuan fungsi, serta promosi berbasis kinerja sebagai wujud prinsip reward and punishment. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menghasilkan perubahan budaya kepolisian sekaligus meningkatkan performa institusi secara optimal.
Arifki Anggap Wajar PKB Gelisah, Politik Dua Kaki PDIP Bisa Gerus Posisi Tawar Partai Koalisi
Ia mencontohkan kebijakan peningkatan tipe seluruh Polda dan kenaikan pangkat para Kapolda menjadi Inspektur Jenderal beberapa tahun lalu. Pada tahap awal, kebijakan tersebut memicu semangat perubahan dan perbaikan kinerja, namun setelah tujuan itu tercapai, dorongan untuk berbenah tampak menurun. Hal serupa, katanya, juga terjadi pada sejumlah satuan fungsi lain.
“Begitu telah mencapai apa yang dimaksud maka seakan-akan tidak ada lagi perubahan,” tuturnya.
Belasan Ribu Massa di Jember Dukung Program Strategis Prabowo, Minta MBG Tetap Dilanjutkan
Adrianus mendorong ke depan anggaran dan promosi jabatan benar-benar dikaitkan dengan capaian kinerja. Satuan atau pejabat dengan kinerja baik harus memperoleh penghargaan, sementara yang tidak mencapai target perlu mendapatkan pengurangan anggaran atau konsekuensi lain.
Dengan pendekatan kompetitif tersebut, ia berharap budaya asal bapak senang (ABS), cari muka, dan praktik tidak produktif lainnya dapat berubah menuju budaya berbasis prestasi.
“Agar dalam situasi kompetensi selalu terjaga dan upaya persaingan untuk menjaga hal yang terbaik tetap terjadi. Kemudian menjadi satu hal yang bisa diharapkan mengubah budaya,” tandasnya.







