Koma.id– Greenpeace Indonesia mengkritik pemerintah atas rangkaian bencana ekologis yang melanda Sumatera, lantaran tragedi tersebut bukan sekadar bencana alam biasa, melainkan kejahatan ekosida sistematis akibat kombinasi deforestasi masif dan krisis iklim global.
Public Engagement and Action Manager Greenpeace Indonesia, Khalisah Khalid, menyatakan perhitungan Celios menunjukkan kerugian akibat bencana ini mencapai Rp68,8 triliun, dan angka tersebut hanya mencakup kerusakan infrastruktur, belum termasuk biaya pemulihan sosial dan ekologis.
Khalisah juga menyoroti dorongan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi sebagai faktor yang berpotensi memperparah kerusakan lingkungan. Ia menegaskan konsep taubat ekologis tidak boleh berhenti pada wacana moral semata, melainkan harus menjadi refleksi bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk para pengelola negara.
Selain itu, Greenpeace mendorong politik hijau menjadi agenda prioritas nasional serta perlunya percepatan regulasi perlindungan lingkungan, termasuk pengesahan kebijakan strategis seperti RUU Masyarakat Adat, sebagai langkah konkret dalam mengurangi risiko kerusakan ekologis di masa mendatang.







