Koma.id– Kementerian Pertahanan (Kemenhan) akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026 setelah dua peserta meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar militer (Latsarmil) di satuan pendidikan TNI.
Evaluasi dilakukan bersama panitia seleksi nasional dan penyelenggara pendidikan dengan fokus pada mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis, penanganan peserta berkondisi kesehatan khusus, serta sistem komunikasi dan pelaporan agar pelaksanaan program ke depan lebih aman, profesional, dan akuntabel.
“Kemenhan bersama panitia seleksi nasional dan penyelenggara pendidikan saat ini melaksanakan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan program, termasuk mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis, penanganan peserta dengan kondisi kesehatan khusus, serta sistem komunikasi dan pelaporan,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemenhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dikutip.
Dua peserta yang meninggal dunia adalah Anisa Muyassaroh yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, dan Yonanda Muhammad Taufiq di Satdik Puslatpur Kodiklatad, Baturaja. Berdasarkan keterangan medis, Anisa meninggal akibat heat stroke, sementara Yonanda meninggal karena cardiac arrest atau henti jantung.
Kemenhan menegaskan keduanya telah melalui tahapan seleksi dan pemeriksaan kesehatan sesuai prosedur sebelum dinyatakan layak mengikuti pendidikan. Selain itu, Kemenhan bersama TNI telah memberikan pendampingan kepada keluarga korban dan memastikan seluruh proses penanganan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.







