Koma.id | Jakarta – Di tengah semarak perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia, sebuah fenomena unik sekaligus kontroversial muncul di berbagai sudut negeri, bendera fiksi dari serial populer One Piece berkibar berdampingan dengan bendera Merah Putih. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai bentuk ekspresi kreatif dan hiburan, namun tak sedikit pula yang menilai ini sebagai bentuk kebablasan dalam memaknai nasionalisme.
Salah satu suara yang mengemuka datang dari Deny Setiawan, ulama sekaligus pemilik travel umroh Darussalam Sukses Mandiri. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan harapan agar fenomena ini tidak terbawa hingga ke Tanah Suci.
“Kami sangat berharap, jangan sampai bendera fiksi ini ikut dibawa ke Mekkah dan Madinah. Tanah suci adalah tempat ibadah, bukan panggung ekspresi budaya pop yang bisa mengaburkan makna spiritual,” ujar Deny, selasa (12/08).
BACA JUGA : Fenomena Bendera One Piece Bisa Jadi Tungganggan HTI, Ancaman Nasionalisme Menjelang HUT RI ke-80
Menurutnya, membawa simbol-simbol hiburan kesuci bisa mengganggu kekhusyukan ibadah dan menciptakan kesan yang tidak tepat di mata jamaah dari berbagai negara.
Fenomena ini membuka ruang diskusi yang lebih luas, dimana batas antara ekspresi budaya dan penghormatan terhadap simbol negara serta tempat ibadah. Di era digital dan fandom global, masyarakat dituntut untuk lebih bijak dalam menempatkan simbol-simbol yang mereka kagumi.
BACA JUGA : Makna di Balik Viralnya Bendera One Piece
Merah Putih adalah lambang perjuangan dan identitas bangsa. Mekkah dan Madinah adalah simbol kesucian dan ketundukan kepada Allah SWT. Ketika keduanya bersinggungan dengan elemen fiksi, publik diajak untuk kembali menimbang, apa yang pantas, kapan, dan di mana.







