Koma.id | Bengkayang, Kalbar – Di tengah hutan belantara yang memisahkan Indonesia dan Malaysia, langkah-langkah pencegahan penyelundupan narkotika semakin diperketat.
Mata tajam para petugas tim patroli di jalur tikus perbatasan Jagoi Babang yang memantau pergerakan mencurigakan bersama tiga anjing pelacak K9 kini menjadi ujung tombak upaya pengawasan.
Anjing-anjing pelacak dari Bea dan Cukai serta Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) TNI tak hanya menyusuri jalur resmi, tetapi juga mendeteksi potensi penyelundupan di titik-titik rawan, seperti kawasan yang oleh warga sekitar dikenal sebagai “Tanah Merah.” Dengan hidung mereka yang peka terhadap aroma narkotika, K9 menjadi elemen krusial dalam operasi ini.
Brigadir Rizka Divonis 10 Tahun Penjara
BACA JUGA : PLBN sebagai Pusat Ekonomi Baru: BNPP RI Dorong Optimalisasi Perbatasan
“Patroli gabungan yang melibatkan Bea dan Cukai, Satgas Pamtas, dan perwakilan PLBN dilakukan secara situasional. Apabila terindikasi adanya potensi penyelundupan, kegiatan ini dapat dilakukan tiga hingga empat kali dalam setahun, intinya menyesuaikan dengan kondisi di lapangan,” ujar Kepala PLBN Jagoi Babang, Misdo Jerry Purba, Sabtu (03/05/25).

Para petugas yang terlibat dalam operasi gabungan ini tak hanya berjaga di PLBN, tetapi juga melakukan penyisiran langsung ke jalur tidak resmi yang sering dimanfaatkan oleh pelintas tanpa dokumen. Warga Indonesia yang berjualan di Pasar Serikin Malaysia setiap akhir pekan pun menjadi bagian dari pemeriksaan rutin, memastikan bahwa pergerakan di perbatasan tetap dalam pengawasan.
Sebagai langkah antisipatif, petugas dan K9 difasilitasi untuk bermalam di mess PLBN, memungkinkan pemantauan berkelanjutan terhadap aktivitas lintas batas. Bagi pemerintah, ini bukan sekadar rutinitas, melainkan komitmen nyata dalam menjaga perbatasan dari masuknya barang terlarang.
BACA JUGA : Semangat Kartini di Tapal Batas, Ibu dan Petugas Keamanan di PLBN Badau
Dengan semakin canggihnya metode penyelundupan, kehadiran K9 menjadi harapan baru dalam perang melawan narkotika. Perbatasan bukan hanya sekadar garis pemisah antar negara tetapi juga benteng pertahanan terhadap ancaman yang bisa merusak masa depan generasi Indonesia.







