Koma.id– Wacana perombakan kabinet dalam 100 hari pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semakin menghangat. Di tengah dinamika politik yang belum sepenuhnya stabil, spekulasi mencuat mengenai kemungkinan dua mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), bergabung dalam pemerintahan.
Isu ini menjadi perbincangan setelah sejumlah pakar politik menyorot arah kebijakan kabinet Prabowo. Pakar tata negara Refly Harun menilai Prabowo membangun pemerintahan dengan pola yang tidak biasa, di mana batas antara oposisi dan koalisi menjadi semakin kabur. Menurutnya, jika Anies dan Ahok benar-benar masuk kabinet, hal itu bisa menjadi bagian dari strategi besar untuk menciptakan pemerintahan yang lebih inklusif.
Dukung Kortas Tipikor Polri Bongkar Dugaan Korupsi dan TPPU, FORMATIK: Jangan Ada yang Kebal Hukum
Senada dengan itu, pengamat politik Hendri Satrio juga melihat peluang adanya pendekatan baru dalam susunan kabinet Prabowo. Namun, Direktur Eksekutif Fixpoll Indonesia, Mohammad Anas RA, menilai wacana reshuffle masih terlalu prematur. Ia berpendapat bahwa evaluasi dalam 100 hari pertama belum cukup relevan untuk menjadi dasar perombakan kabinet, kecuali jika ada faktor mendesak seperti kasus hukum atau bencana nasional.
Di sisi lain, pertemuan Ketua Umum Projo yang juga Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, dengan mantan Presiden Joko Widodo di tengah isu reshuffle turut menyedot perhatian publik. Pertemuan tersebut memunculkan berbagai spekulasi mengenai peran Jokowi dalam dinamika politik pemerintahan Prabowo.
INDEF Dukung Kortas Tipikor Polri Bongkar Dugaan Korupsi Besar & TPPU yang Rugikan Negara







