Koma.id – Jangan mengaku pecinta burung perkutut jika kamu belum tahu tempat ini. Para pehobi perkutut dari berbagai daerah acap kali menyambangi lokasi penangkaran perkutut Top Bird Farm milik Muryono di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.
Bertemu dengan sang pemilik tempat yaitu Muryono (72). Ia tampak sedang mengerek sangkar salah satu burung perkutut kesayangannya.
“Ini salah satu perkutut kesayangan saya, dia ini keturunan perkutut terbaik milik saya yang bernama Den Bagus,”jelas Muryono mengawali obrolan, Senin (19/8).

Usut punya usut, pensiun pada 2010, Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Muryono, tak ingin hanya duduk diam di rumah, Ia membuat usaha penangkaran burung perkutut yang kini berjumlah 179 kandang.
Langkahnya tak berhenti, ia mulanya membangun 24 kandang di Surabaya, Jawa Timur dan 20 kandang baru di Kota Depok, Jawa Barat, pada Maret 2012. Muryono juga memburu perkutut mulai dari yang kualitas sedang hingga yang memiliki trah juara, hingga bisa mendirikan 76 kandang penangkaran perkutut.

Muryono sudah menjalani hobinya menangkarkan perkutut semasa menjabat sebagai perwira (Kapten) TNI AL, dengan memiliki perkutut kesayangan yang di beri nama Den Bagus. Ia membeli perkutut itu dari Terminal Perkutut Farm di Surabaya pada Juli 2012.
Bak primadona, Den Bagus kian melejit setelah menjuarai kontes pada Piala Infanteri di pengujung 2012 dengan nilai sempurna. Bahkan, burung perkutut bernama Den Bagus ini sempat ditawar dengan seharga mobil mewah (Alphard), tapi ia enggan melepasnya, karena baginya “Rejeki dari Tuhan tidak akan pernah tertukar”. Hingga akhirnya Den Bagus mati pada April 2014.


Di penangkaran perkutut Top Bird Farm ini, para penghobi bisa belajar cara kembang biak perkutut dan membeli bibit perkutut dengan harga terjangkau. Dapat melihat penelusuran trah burung perkutut dan melihat para pekerja merawat bahkan memberikan gelang ke kaki perkutut yang baru.

Perkutut milik Muryono kerap menghadiri kontes-kontes perkutut di mancanegara, seperti Thailand, Singapura dan Malaysia. Bagi Muryono, beternak dan lomba memiliki makna yang berbeda.

“Beternak memang lebih sulit daripada berkompetisi. Beternak punya banyak tantangan dan resiko, sedangkan lomba hanya mengejar hadiah dan penghargaan, “pungkas Mantan Panglima Komando, Laksamana Muda (Purn) Muryono.








