Koma.id – Pengamat militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie menyebut ada tentara bayaran yang berada di belakan kelompok kriminal bersenjata di Papua atau KKB Papua. Ia yakin KKB Papua tidak mampu bertahan dan terus melakukan serangkaian aksi pemberontakan atau separatis jika tidak disokong pihak lain.
Dikutip dari Pos Kupang Podcast pada Selasa (30/5/2023), pengamat dari Universitas Jenderal Ahmad Yani Bandung ini menyebut bahwa tentara bayaran yang ‘bermain’ di Papua bisa berasal dari organisasi tentara bayaran asing.
Besok Kepung Bundaran HI, Mahasiswa Se-Jabodetabek Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
“Nggak mungkin anda ( KKB Papua ) mampu kalau tidak disuport sesuatu. Bisa kekuatan dari Inggris, Amerika, Australia, New Zealand,” sebut Connie Bakrie.
Kapolri Siapkan Nobar Gratis Piala Dunia 2026 dari Mabes hingga Polsek, UMKM Ikut Kecipratan Berkah
Operasi bayaran dalam aktivitas dan aksi aksi separatis di Papua, Connie mengatakan hal tersebut bisa diukur.
“Ada tentara bayaran (di Papua). Mau diakui atau tidak, kita bisa ngukur. Dan ini TNI tidak mungkin tidak tahu,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 3 November 1964 itu.
Dia mengingatkan bahwa, konsep tentara bayaran tidak lagi harus berperawakan bule atau orang asing. Organiasi tentara bayaran bisa membayar para desersi lokal untuk kepentingan mereka.
“Tentara kita yang desersi juga masuk ke mereka. Ada pengakuan dari mereka bahwa mereka dibantu orang batak, dan lain lain,” kata perempuan yang meneliti tentara Israel itu.
“Jangan liat siapanya, tapi pasti di belakang itu ada tentara bayaran,” lanjut dia lagi.
Connie Bakrie juga menduga penyerangan terhadap anggota TNI yang melakukan operasi penyelamatan Pilot Susi Air dilakukan oleh tentara bayaran. Dalam operasi tersebut, empat prajurit Kopassus TNI dilaporkan gugur.
Untuk memberantas KKB Papua yang terus melakukan gerakan separatis, kata Connie, maka harus dilakukan operasi militer layaknya Aceh pada waktu lalu.










