Koma.id – Polri melakukan transformasi besar dalam sistem pendidikannya dengan mendesain ulang seluruh kurikulum pendidikan kepolisian. Kurikulum baru tersebut akan memasukkan materi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), big data, hak asasi manusia (HAM), digitalisasi, hingga kemampuan berpikir komprehensif dan holistik sebagai bekal menghadapi tantangan kepolisian di era modern.
Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan penyusunan kurikulum baru dilakukan agar selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2026 serta rekomendasi reformasi kepolisian.
“Seluruh kurikulum pendidikan Polri sedang didesain ulang agar sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2026 dan rekomendasi reformasi kepolisian. Pendidikan Polri ke depan harus semakin berbasis hak asasi manusia, memperkuat kompetensi, profesionalisme, serta menjawab tantangan perkembangan zaman,” kata Dedi, dikutip Selasa (7/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan usai menghadiri Analisis dan Evaluasi (Anev) Pendidikan dan Pelatihan Semester I Tahun 2026, peresmian Kelas Tematik Akademi Kepolisian (Akpol), serta peresmian Laboratorium Sosial Sains Kepolisian di Akpol Semarang. Menurut Dedi, hasil evaluasi itu menjadi landasan penyusunan sistem pendidikan baru yang ditargetkan mulai diterapkan pada 2027.
Reformasi pendidikan itu akan mencakup seluruh jenjang pendidikan Polri, mulai dari pendidikan pembentukan, pendidikan pengembangan pertama, menengah, hingga pendidikan tinggi. Kurikulum baru juga akan diterapkan pada berbagai lembaga pendidikan pembentukan, termasuk Bintara Polri, Bintara SPKT, Brimob, Polair, dan Intelijen.
Selain memperbarui kurikulum, Polri juga meluncurkan Kelas Tematik Akpol sebagai model pembelajaran baru yang menampilkan representasi fungsi-fungsi utama kepolisian. Ke depan, konsep tersebut akan dikembangkan di seluruh Polda dengan menyesuaikan karakteristik wilayah, kearifan lokal, serta pemanfaatan big data sebagai media pembelajaran bagi para taruna.
Menurut Dedi, perubahan metode pembelajaran menjadi kebutuhan karena mayoritas peserta didik Polri saat ini berasal dari Generasi Z dan Generasi Alpha yang tumbuh di era digital.
“Kami menyiapkan taruna sebagai first line supervisor sekaligus calon pemimpin Polri masa depan. Karena mayoritas merupakan generasi Z dan generasi Alpha, proses pembelajaran harus dekat dengan digitalisasi, pengambilan keputusan berbasis data, analisis berbasis artificial intelligence (AI), serta kemampuan berpikir komprehensif dan holistik,” ujarnya.
Dedi menambahkan, reformasi pendidikan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan teknis kepolisian, tetapi juga membentuk personel yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, berintegritas, serta mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Dengan pembaruan kurikulum itu, Polri berharap dapat mencetak sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan keamanan di era digital sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.













