Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Perwira Polri Tak Gengsi Jadi Ketua RT, Imam Basori Rayakan HUT Bhayangkara ke-80 dengan Inovasi Komling & Smart Geprek

Views
×

Perwira Polri Tak Gengsi Jadi Ketua RT, Imam Basori Rayakan HUT Bhayangkara ke-80 dengan Inovasi Komling & Smart Geprek

Sebarkan artikel ini
Ketua RT 11 Gandaria Utara Imam Basori Luncurkan Komling & Smart Geprek
Ketua RT 11 Gandaria Utara Imam Basori Luncurkan Komling & Smart Geprek

Jakarta – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80 dimaknai secara berbeda oleh Imam Basori. Perwira Polri yang bertugas di Mabes Polri yang tak gengsi jadi Ketua RT 11 RW 07 Kelurahan Gandaria Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini kembali menghadirkan inovasi untuk masyarakat.

Setelah sebelumnya berhasil membangun sistem keamanan lingkungan berbasis teknologi guna mencegah aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor), kali ini Imam Basori bersama warga mencoba menjawab persoalan lain yang menjadi perhatian Jakarta, yakni pengelolaan sampah dari sumbernya.

Silakan gulirkan ke bawah

Langkah tersebut juga mendapat semangat baru setelah kunjungan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang memberikan apresiasi dan dukungan terhadap berbagai inovasi yang dikembangkan warga RT 11 RW 07. Berbekal dukungan tersebut, warga langsung bergerak mengeksekusi program pemilahan sampah berbasis masyarakat.

Melalui program Kompos Keliling (KomLing), RT 11 RW 07 memperkenalkan sistem penjemputan sampah organik langsung dari rumah warga menggunakan gerobak listrik. Sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran kemudian diolah menjadi kompos, sehingga tidak lagi menumpuk di tempat sampah maupun berakhir di Tempat Pembuangan Sampah (TPS).

Ketua RT 11 RW 07, Imam Basori, mengatakan persoalan sampah harus diselesaikan dari hulunya, yakni rumah tangga.

“Kami mencoba menyelesaikan persoalan sampah dari sumbernya, yaitu dapur rumah tangga. Sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran akan dijemput langsung melalui KomLing untuk diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan,” ujar Imam Basori.

Ia menjelaskan, pendekatan jemput bola dipilih agar masyarakat semakin mudah berpartisipasi dalam memilah sampah. Melalui KomLing, warga tidak perlu lagi membawa sampah organik ke TPS karena petugas akan datang secara berkala untuk melakukan pengambilan.

Menariknya, proses pengolahan kompos dalam program ini tidak lagi membutuhkan waktu hingga satu bulan seperti metode konvensional. Dengan teknologi yang diterapkan, kompos dapat dihasilkan dalam waktu kurang dari satu hari sehingga lebih cepat dimanfaatkan untuk penghijauan dan kebutuhan tanaman warga.

Tidak hanya mengelola sampah organik, RT 11 RW 07 juga memperkenalkan Smart Geprek, sebuah alat pemadat botol plastik dan kaleng minuman berbasis teknologi sederhana. Inovasi ini bertujuan mengurangi volume sampah anorganik sebelum disalurkan ke bank sampah sehingga penyimpanan, pengangkutan, dan nilai ekonominya menjadi lebih optimal.

Sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat, peluncuran program tersebut turut dimeriahkan dengan jingle “KomLing Mania”. Lagu tersebut dirancang sebagai media kampanye agar masyarakat terbiasa memilah sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari rumah.

Bagi Imam Basori, inovasi di tingkat lingkungan tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga menyentuh persoalan keseharian warga. Melalui kolaborasi antara pengurus RT dan masyarakat, ia berharap pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat menjadi contoh bagi lingkungan lain dalam mewujudkan permukiman yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.