Koma.id | Jakarta – Harga emas dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada pekan depan setelah mencatat penurunan tajam sepanjang minggu ini dan menembus level teknikal penting yang selama ini menjadi penopang pergerakan harga.
Emas spot ditutup di kisaran US$ 4.328 per ons troi pada Jumat (05/06), melemah lebih dari 4% dalam sepekan. Pelemahan semakin dalam setelah harga bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average), yang selama ini menjadi area support jangka panjang.
Tekanan terbesar datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid. Nonfarm payrolls mencatat penambahan 172.000 lapangan kerja pada Mei, melampaui ekspektasi. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin yakin Federal Reserve (The Fed) belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan membuka peluang kebijakan moneter lebih ketat jika inflasi kembali meningkat.
Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler menilai posisi emas saat ini cukup rentan.
“Harga emas terlihat berat. Setelah kembali berada di bawah level tersebut, area US$ 4.367 menjadi level teknikal penting yang perlu diperhatikan,” ujarnya.
Fokus investor pekan depan akan tertuju pada rilis data inflasi AS, yakni indeks harga konsumen (CPI) pada Rabu dan indeks harga produsen (PPI) pada Kamis. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar, menambah tekanan terhadap emas.
Analis Senior FxPro Alex Kuptsikevich memperkirakan harga emas masih berpeluang turun menuju area US$ 4.250 per ons troi. Presiden Phoenix Futures and Options Kevin Grady menambahkan, emas berpotensi menguji kembali level US$ 4.128 per ons troi yang sempat menjadi titik terendah pada Maret lalu.
Meski demikian, sejumlah analis menilai koreksi saat ini bisa menjadi peluang akumulasi jangka panjang. Presiden Asset Strategies International Rich Checkan menegaskan fundamental emas tetap kuat berkat inflasi global, ketidakpastian geopolitik, dan pembelian emas oleh bank sentral. Founder B2PRIME Group Eugenia Mykuliak juga menilai pelemahan harga lebih dipengaruhi aksi ambil untung investor jangka pendek dibanding perubahan fundamental pasar.
Kolumnis Reuters Clyde Russell menyoroti pola historis reli emas yang biasanya diikuti koreksi dalam. Namun, reli kali ini dinilai berbeda karena ditopang kombinasi faktor unik, termasuk pembelian besar-besaran oleh bank sentral, permintaan tinggi dari China dan India, serta ketidakpastian global. Meski permintaan perhiasan dan inflow ETF mulai melemah, ekspektasi kebijakan moneter AS kini menjadi penentu utama arah harga emas.








