Koma.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada awal pekan ini. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah berpotensi menyentuh level Rp17.300 per dolar AS pada Senin (20/04), setelah pada penutupan perdagangan Jumat (17/4) rupiah mendekati Rp17.200 per dolar AS.
“Rupiah ini bisa saja tembus di level Rp17.300-an dalam minggu depan,” ujar Ibrahim, Minggu (19/04).
Faktor Global dan Geopolitik
IJTI Kecam Manajemen Apartemen Saladin Depok
Ketidakpastian di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama. Dalam 24 jam terakhir, Iran sempat membuka jalur vital perdagangan energi dunia itu sebelum kembali menutupnya menjelang berakhirnya gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Pembukaan sempat menurunkan harga minyak hingga 10 persen, namun kondisi cepat berubah ketika ancaman blokade kembali mencuat.
Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan baik, tetapi belum ada kepastian.
“Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya, jadi akan ada blokade dan sayangnya kita harus mulai menjatuhkan bom lagi,” katanya.
Sementara itu, militer Iran menegaskan kesiapan menghadapi konflik lanjutan, termasuk penggunaan rudal baru.
Dampak ke Rupiah
Gangguan di Selat Hormuz yang menyalurkan sepertiga pasokan minyak dunia mendorong kenaikan harga energi global. Bagi Indonesia, kondisi ini meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi, sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.
Selain faktor eksternal, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mendekati batas atas juga membebani persepsi investor. Defisit diperkirakan melebar ke 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari rancangan awal 2,68 persen.
Perbandingan Regional
Data Reuters menunjukkan rupiah mencatat pelemahan terdalam di Asia pada perdagangan Kamis (17/04), yakni 0,26 persen. Peso Filipina melemah 0,16 persen, yen Jepang 0,14 persen, baht Thailand 0,12 persen, ringgit Malaysia 0,08 persen, dan dolar Singapura 0,05 persen. Yuan China relatif stabil, sementara won Korea Selatan justru menguat 0,07 persen.
Kebijakan Pemerintah
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan stok energi nasional masih di atas standar minimum.
“Insyaallah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, bensin, maupun elpiji. Kami sudah bersepakat atas arahan Presiden bahwa harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan sampai akhir tahun,” ujarnya.







