Koma.id | Teheran – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup pada Sabtu (18/04) menyusul blokade berkelanjutan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRGC menuding AS melakukan tindakan “pembajakan” dan pencurian maritim dengan dalih blokade.
“Karena alasan ini, kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi semula, dan jalur air strategis ini kini berada di bawah manajemen serta pengawasan ketat angkatan bersenjata,” demikian pernyataan IRGC.
Komando Angkatan Laut IRGC menegaskan bahwa selama pergerakan kapal dari dan ke Iran masih terancam, status Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat. “Setiap pelanggaran komitmen oleh Amerika Serikat akan mendapat tanggapan yang sesuai,” tulis IRGC melalui akun X.
Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid Diperiksa 7 Jam Terkait Kasus Penipuan Umrah Hanania Travel
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi sempat mengumumkan pembukaan penuh Selat Hormuz bagi kapal komersial, sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon. Namun, keputusan itu dicabut setelah Washington menegaskan blokade tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan diplomatik, termasuk terkait program nuklir Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan blokade Angkatan Laut AS bersifat penuh dan tidak akan dicabut sebelum ada kesepakatan komprehensif dengan Teheran. Trump juga menegaskan kemungkinan gencatan senjata tidak diperpanjang setelah berakhir pada Rabu (22/04).
Penutupan kembali jalur vital ini memicu kekhawatiran pasar energi internasional. Data pelayaran menunjukkan lebih dari 30 kapal komersial sempat mendekati Selat Hormuz sebelum pengumuman penutupan. Dua kapal tanker dilaporkan ditembaki saat mencoba melintas di perairan antara Pulau Qeshm dan Larak, memaksa mereka berputar balik.
Organisasi kemanusiaan International Rescue Committee (IRC) memperingatkan dampak penutupan sebelumnya masih terasa, dengan penumpukan barang yang membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk diselesaikan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketidakpastian status jalur ini menambah tekanan terhadap pasar energi global, yang sebelumnya sempat mereda setelah pengumuman pembukaan kembali sehari sebelumnya.








