Koma.id | Aceh Tamiang – Hampir lima bulan pascabencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025, kondisi pendidikan di Kuala Simpang masih jauh dari normal. Sejumlah sekolah belum pulih sepenuhnya, membuat siswa harus belajar dengan fasilitas seadanya.
Di SMPN 1 Kuala Simpang, murid-murid tampak duduk di lantai berdebu atau kursi plastik bantuan. Meja dan kursi belajar belum tersedia, sementara kipas angin dan listrik di beberapa ruang kelas tidak berfungsi.
“Kurang nyaman kalau duduk di bawah gini, baju kami jadi kotor pulang sekolah,” kata Fatir (15), siswa kelas 3 SMPN 1 Kuala Simpang, Senin (13/04).
Sejumlah ruang kelas masih rusak, plafon porak-poranda, dan dinding tertutup bekas lumpur. Pada awal masa pemulihan, kegiatan belajar sempat dipindahkan ke musala sekolah dengan sistem sif. Kini, meski sudah kembali ke ruang kelas, kondisi sarana belajar masih jauh dari layak.
Situasi serupa terjadi di SD Negeri 2 Kuala Simpang. Putri Thalitha Salsabila (11), siswa kelas 5, mengaku belum memiliki seragam sekolah. Pakaian yang dikenakannya merupakan bantuan.
“Kalau aku ini belum punya seragam, ini dikasi dari bantuan,” ujarnya. Di sekolahnya, papan tulis pun belum tersedia, sehingga pembelajaran digabung dengan kelas lain.
Siti Balqis (11), murid SD Negeri Kota Lintang, juga menyampaikan hal serupa. “Iya, maunya punya yang baru [seragam],” katanya.
Bencana banjir bandang yang meluluhlantakkan kawasan tepian Sungai Tamiang masih menyisakan jejak kerusakan. Ruko-ruko di pusat kota tampak kusam, dinding tertutup lumpur, dan jalanan dipenuhi debu sisa endapan banjir. Meski warga mulai menempati hunian sementara (huntara), pemulihan layanan pendidikan berjalan lambat.
Hingga kini, siswa di Aceh Tamiang tetap berusaha melanjutkan aktivitas belajar meski dengan segala keterbatasan. “Tapi mending sekolah daripada enggak sekolah,” ujar Fatir.








