Koma.id | Jakarta – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali melemah pada Jumat (27/03). Berdasarkan data dari laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini dipatok Rp 2.810.000 per gram, turun Rp 40.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp 2.850.000 per gram.
Sementara itu, harga buyback emas Antam juga terkoreksi cukup dalam, turun Rp 76.000 menjadi Rp 2.414.000 per gram. Buyback adalah harga yang ditetapkan Antam jika konsumen menjual kembali emas batangan ke perusahaan.
Harga emas Antam sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 29 Januari 2026 di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback Rp 2.989.000 per gram. Sepanjang tahun berjalan, harga emas Antam masih mencatat kenaikan sekitar 16 persen dibanding awal tahun yang berada di level Rp 2.488.000 per gram.
Berikut daftar harga emas Antam per Jumat (27/3/2026):
- 0,5 gram: Rp 1.455.000
- 1 gram: Rp 2.810.000
- 2 gram: Rp 5.610.000
- 3 gram: Rp 8.315.000
- 5 gram: Rp 13.825.000
- 10 gram: Rp 27.595.000
- 25 gram: Rp 68.862.000
- 50 gram: Rp 137.645.000
- 100 gram: Rp 275.212.000
- 250 gram: Rp 687.765.000
- 500 gram: Rp 1.375.320.000
- 1.000 gram: Rp 2.750.600.000
Penurunan harga emas Antam sejalan dengan pelemahan harga emas global. Mengutip CNBC, harga emas spot turun 2,7 persen menjadi USD 4.384,38 per ounce, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup melemah 3,9 persen ke USD 4.376,3 per ounce.
Analis Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyebut pelemahan emas dipicu penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, serta kekhawatiran inflasi dan suku bunga. “Jika konflik berlanjut, harga bisa turun di bawah USD 4.000, sementara gencatan senjata dan harapan penurunan suku bunga dapat mengangkatnya kembali ke arah USD 5.000,” ujarnya.
Selain emas, harga logam lain juga terkoreksi. Perak spot turun 5 persen menjadi USD 67,71 per ounce, platinum melemah 4,2 persen ke USD 1.839,67 per ounce, dan paladium turun 5 persen ke USD 1.352,82 per ounce.
Dengan tren pelemahan ini, pelaku pasar diminta tetap mencermati dinamika global, terutama konflik di Timur Tengah dan kebijakan suku bunga AS, yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas ke depan.








