Koma.id | Solo – Gema takbir belum berkumandang, namun aspal jalur Pantura dan bentangan Trans-Jawa sudah mulai “bernyanyi” menyambut jutaan roda pemudik. Di tengah keriuhan persiapan pulang kampung, sebuah pesan penting datang dari markas Pengurus Pusat Senkom Mitra Polri.
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Senkom Mitra Polri, H. Aan Dwi Puantoro, mengingatkan bahwa mudik bukan sekedar urusan memindahkan raga ke kampung halaman, melainkan sebuah ujian integritas di jalan raya.
Banyak yang saking semangatnya ingin cepat sampai, justru mengabaikan sinyal-sinyal dari tubuh dan kendaraan sendiri,” ujar H.Aan saat ditemui di sela-sela pemantauan arus mudik di Jalur Pantura, Senin (23/03).
Sebagai sosok yang juga dikenal sebagai jurnalis senior, H. Aan Dwi Puantoro memiliki sudut pandang yang unik dalam melihat dinamika arus mudik. Baginya, setiap pengemudi harus mampu menjadi “wartawan” bagi kendaraannya sendiri, peka terhadap setiap suara aneh pada mesin atau getaran yang tidak biasa pada kemudi.
Ia menekankan pentingnya Manajemen Lelah . “Jangan jadikan bahu jalan sebagai tempat istirahat utama. Jalan bahu adalah jalur darurat bagi petugas dan ambulans. Jika tertidur menyerang, carilah rest area terdekat atau keluar di gerbang tol untuk membuka kaki,” tambahnya dengan nada tegas.
H. Aan Dwi Puantoro juga mengajak pemudik untuk cerdas memanfaatkan teknologi. Di era digital ini, mengomunikasikan rute melalui aplikasi navigasi atau frekuensi radio komunikasi adalah kewajiban. Hal ini penting untuk menghindari titik kemacetan akibat rekayasa lalu lintas seperti One Way atau Contraflow .
Menutup perbincangan, Wasekjen Senkom Mitra Polri yang gemar dunia fotografi dan dokumentasi visual ini menitipkan pesan hangat bagi seluruh pemudik.
“Ingat, ada keluarga yang menanti senyum Anda di meja makan. Kecepatan mungkin bisa memangkas waktu, tapi kesabaranlah yang akan memastikan Anda sampai di tujuan dengan selamat. Mari kita wujudkan mudik yang aman, nyaman, dan tentu saja, berintegritas,” tutupnya.
Bagi H. Aan, integritas di jalan raya adalah cerminan karakter bangsa. Dengan disiplin berlalu lintas, kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menghargai hak hidup orang lain di aspal yang sama.








