Koma.id – Pernyataan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak dalam menanggapi kritik Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Abbas menuai kecaman dari berbagai kalangan. Respons Dahnil dinilai tidak mencerminkan adab dan etika sebagai pejabat publik.
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ikhsan Abdullah, menyoroti diksi bernada merendahkan yang digunakan Dahnil saat merespons pandangan Anwar Abbas terkait penunjukan perusahaan penyedia layanan haji (syarikah) yang jumlahnya berkurang dari delapan menjadi dua.
Menurut KH Ikhsan, perbedaan pandangan merupakan hal wajar dalam ruang publik, namun seharusnya disampaikan dengan bahasa yang beradab, terlebih oleh pejabat negara. Ia menilai persoalan etika dan akhlak dalam komunikasi publik menjadi masalah serius dalam beberapa tahun terakhir.
“Indonesia justru tertinggal dalam hal etika berkomunikasi dibandingkan sejumlah negara lain. Padahal adab adalah bagian penting dari budaya dan nilai keagamaan,” ujar KH Ikhsan.
Kritik juga datang dari Aktivis Muhammadiyah Jakarta, Farid Idris. Ia secara terbuka meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mencopot Dahnil dari jabatannya. Farid menilai pernyataan Dahnil mengandung unsur sindiran kasar yang tidak pantas disampaikan kepada tokoh senior Muhammadiyah seperti KH Anwar Abbas.
Menurut Farid, pejabat publik semestinya menjaga tutur kata dan sikap, terlebih saat merespons kritik dari tokoh masyarakat. Ia menegaskan bahwa pernyataan yang bernada merendahkan dapat mencederai etika bernegara dan merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak terkait kritik yang disampaikan sejumlah tokoh dan organisasi masyarakat tersebut.












