Koma.id – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menyoroti konflik internal yang tengah terjadi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ia menilai situasi tersebut mirip dengan dinamika yang kerap muncul dalam konflik internal partai politik, yakni munculnya dualisme kepemimpinan.
“Sangat disayangkan PBNU terjadi konflik internal seperti yang sempat terjadi di beberapa partai politik sebelumnya. Sama seperti konflik internal partai, konflik di PBNU ini juga menyebabkan munculnya dualisme kepemimpinan,” kata Lili dilansir Inilah.com, Jumat (5/12/2025).
Menurutnya, jika masing-masing kubu tetap bersikeras mempertahankan posisi, dampaknya bisa merugikan organisasi maupun para pengikutnya, yaitu kalangan Nahdliyin.
Ia mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan tidak hanya akan menimbulkan citra buruk di mata publik, tetapi juga menguras energi dan berpotensi menjalar ke struktur kepengurusan di tingkat bawah.
“Oleh karena itu, saya berharap konflik ini tidak berlarut-larut. Bukan hanya menciptakan citra buruk, tapi juga bisa merembet ke kepengurusan di tingkat bawah,” tuturnya.
Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan keputusan Rapat Harian Syuriyah terkait pencopotan dirinya tidak memiliki dasar hukum yang sah. Ia menekankan bahwa posisi ketua umum saat ini masih dijabat oleh dirinya.
Ia menegaskan bahwa pernyataannya bukan untuk mempertahankan kepentingan pribadi, melainkan demi menjaga ketertiban organisasi PBNU.
“Saya dalam hal ini tidak punya kepentingan apa pun selain mempertahankan tatanan organisasi yang ada. Jangan sampai tatanan organisasi ini runtuh hanya karena keinginan-keinginan sepihak,” kata Gus Yahya di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Ia juga menyebut bahwa Rapat Harian Syuriyah yang digelar beberapa pekan lalu dilakukan secara sepihak tanpa memberi ruang klarifikasi kepadanya. Karena itu, menurutnya, proses tersebut secara materiil tidak dapat diterima.
“Ini dilakukan sepihak tanpa memberikan ruang klarifikasi kepada saya. Dan itu berarti secara material jelas tidak dapat diterima,” tegasnya.
Menurut dia, keputusan yang diambil tanpa kewenangan berpotensi mengguncang fondasi organisasi PBNU. Karena itu, Gus Yahya menegaskan dirinya bersama sejumlah pengurus harian bertekad menjaga marwah organisasi.
“Maka saya, bersama teman-teman yang menjadi Pengurus Harian di sini, bertekad untuk menjaga tatanan organisasi ini sekuat-kuatnya,” jelas Gus Yahya.







