Koma.id — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto menuai kritik keras setelah pernyataannya yang menyebut situasi bencana “Hanya mencekam di media sosial”. Ucapan tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Jumat (28/11), saat Suharyanto menanggapi pertanyaan mengenai belum diberlakukannya status darurat bencana nasional.
Dalam penyampaiannya, Suharyanto mengatakan bahwa kondisi lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan gambaran yang beredar di media sosial.
“Kelihatannya mencekam ya, kan berseliweran di media sosial, nggak bisa ketemu apa. Tapi begitu sampai ke sini sekarang. Begitu rekan media hadir di lokasi kemudian tidak hujan. Coba di Sumatera Utara yang kelihatannya mencekam, kan sekarang menjadi hal yang sangat serius tinggal Tapanuli Tengah,” ujarnya.
Pernyataan itu langsung memicu reaksi negatif publik, terutama karena disampaikan di tengah situasi darurat ketika ribuan warga mengungsi dan menghadapi keterbatasan kebutuhan dasar. Banyak pihak menilai komentar tersebut meminimalkan derita masyarakat terdampak bencana.
Pengamat kebijakan publik Agus Safrizal menilai ucapan Suharyanto sebagai bentuk kurangnya empati negara terhadap warganya.
Artis hingga Anggota DPR Dukung Nadiem
“Pernyataan ini bukan saja menunjukkan kurangnya empati, tetapi juga menyingkap lemahnya kepekaan institusi kebencanaan terhadap ancaman nyata yang dihadapi masyarakat,” ujar Agus.
Kritik juga datang dari kalangan tokoh agama. Pengurus Nahdlatul Ulama, Umar Hasibuan, menyampaikan protes melalui akun X pribadinya, @UmarHasibuan__.
“Pakai empatimu, jangan jahat jadi manusia. Bencana tidak untuk dibecandain, bos. Pejabat memalukan dan nggak punya empati,” tulisnya.
Setelah kritik meluas, Suharyanto akhirnya menyampaikan permintaan maaf. Ia menegaskan bahwa ucapannya tidak bermaksud meremehkan kondisi masyarakat terdampak, dan BNPB tetap berkomitmen menangani bencana secara maksimal.










