Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
NasionalOpini

Indonesia Tak Runtuh karena Perbedaan, Tapi Bisa Retak karena Ketimpangan

Views
×

Indonesia Tak Runtuh karena Perbedaan, Tapi Bisa Retak karena Ketimpangan

Sebarkan artikel ini
Indonesia Tak Runtuh karena Perbedaan, Tapi Bisa Retak karena Ketimpangan

Koma.id | Jakarta – Tragedi ambruknya sebuah pesantren di Sidoarjo belum lama ini memantik respons cepat dari pemerintah. Instruksi pun langsung turun: seluruh pesantren di Indonesia harus diperiksa, bahkan direnovasi jika diperlukan. Langkah ini dinilai sebagai bentuk nyata kepedulian negara terhadap lembaga pendidikan Islam yang selama ini menjadi benteng moral bangsa.

Namun di balik gerak cepat itu, terselip kegelisahan yang tak bisa diabaikan. Sebab, di sudut lain negeri ini, masih banyak rumah ibadah non-muslim yang bertahun-tahun kesulitan mendapatkan izin pendirian. Ada yang terhenti di tengah jalan birokrasi, ada pula yang harus bertahan di antara sikap pemerintah daerah yang gamang menghadapi tekanan sosial.

Silakan gulirkan ke bawah

Indonesia memang menjunjung Pancasila sebagai dasar negara. Tapi dalam praktiknya, semangat toleransi sering kali terasa timpang. Ia hadir sebagai slogan di podium, namun belum sepenuhnya menjadi sikap di lapangan. Padahal, nilai-nilai Pancasila tidak mengenal toleransi yang selektif, yang hangat untuk satu pihak, dan dingin bagi yang lain.

BACA JUGA : Fernando Sarankan Prabowo Bentuk Badan Khusus Serap Aspirasi Rakyat

Aktivis dan pemerhati anak serta perempuan, Roostien Ilyas, turut menyuarakan keprihatinan atas ketimpangan ini. Menurutnya, keadilan sosial bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal rasa aman dan diterima.

“Anak-anak dan perempuan dari komunitas minoritas sering kali menjadi korban dari ketidakadilan yang tak terlihat. Ketika rumah ibadah mereka terhambat, yang terluka bukan hanya keyakinan, tapi juga rasa memiliki terhadap tanah air,” ujar Roostien.

Gerak cepat pada satu peristiwa dan kelambanan pada yang lain menunjukkan bahwa kita masih belajar memahami arti keadilan. Negara seharusnya tidak hanya melindungi mayoritas, tetapi juga memastikan bahwa minoritas tidak merasa asing di tanah airnya sendiri.

BACA JUGA : Laskar Santri Nusantara Gelar Aksi Damai Protes Tayangan Xpose Uncensored Trans 7

Jika pola ini terus berulang, generasi mendatang bisa tumbuh dengan pelajaran keliru, bahwa toleransi bisa ditawar, bahwa keadilan boleh dipilih-pilih. Dan dari situlah, retak kecil dalam kebangsaan bisa membesar menjadi jurang.

Indonesia tidak akan runtuh karena perbedaan keyakinan. Tapi ia bisa goyah jika keadilan dan toleransi hanya menjadi lip servic, ucapan manis yang tak pernah benar-benar menyentuh hati.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.