Koma.id | Sidoarjo – Tim SAR gabungan terus melakukan evakuasi terhadap korban ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren Al Khozyni, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 38 santri masih diduga tertimbun reruntuhan bangunan.
“Berdasarkan absensi santri, sebanyak 91 orang sempat dinyatakan tertimbun. Namun hingga Selasa (30/09) pukul 19.00 WIB, 102 santri telah berhasil dievakuasi, 91 di antaranya menyelamatkan diri secara mandiri, dan 11 lainnya dibantu tim SAR,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulis.
Satu dari 11 santri yang dievakuasi ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Total korban meninggal hingga saat ini tercatat tiga orang, sementara satu pasien dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD Jawa Timur, BPBD Sidoarjo, BPBD Jombang, Mojokerto, dan Nganjuk, Dinas PU SDA Provinsi, Tagana Dinas Sosial, serta aparat TNI-Polri, masih bekerja secara bergantian di lokasi kejadian. Penggunaan alat berat belum dilakukan karena dikhawatirkan getaran dapat memperparah kondisi reruntuhan.
“Upaya penyelamatan difokuskan dengan menggali lubang dan celah. Tim mendeteksi indikasi enam korban masih bertahan di salah satu segmen reruntuhan. Melalui celah yang ada, petugas telah menyalurkan makanan dan minuman,” ujar Muhari.
Kementerian Sosial juga mengerahkan tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk membantu proses evakuasi dan mendirikan dapur umum yang mampu memasak hingga 1.000 porsi. Selain itu, Kemensos menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, perlengkapan anak, kasur lipat, family kit, dan tenda serbaguna.
“Pendampingan psikososial juga diberikan agar para korban, terutama anak-anak, bisa pulih secara mental dan emosional,” kata Plt Direktur PSKBA Kemensos, Masryani Mansyur.
Sebanyak 77 korban luka telah dirawat di sejumlah rumah sakit, yakni RSUD Sidoarjo (34 orang), RS Siti Hajar (38 orang), dan RS Delta Surya (4 orang). Tim SAR masih menunggu asesmen lanjutan untuk menentukan penggunaan alat berat dalam proses evakuasi jenazah jika tidak ditemukan lagi korban selamat.
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, menyebutkan bahwa komunikasi sempat dilakukan dengan salah satu santri yang masih terjebak, memberi harapan bahwa beberapa korban masih dapat ditemukan hidup.








