Koma.id – Lonjakan harga beras yang terus menekan daya beli masyarakat memicu reaksi tegas dari Anggota Komisi IV DPR RI, Fraksi Partai NasDem, Ananda Tohpati. Dalam rapat dengan Direktur Utama Perum Bulog, Ananda menghimbau Bulog untuk segera atasi kenaikan harga beras.
“Permasalahannya kita sama-sama tahu adalah kenaikan harga beras belakangan ini. Bulog harus bergerak cepat, jangan sampai harga ini makin menyusahkan rakyat,” tegas Ananda di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (21/8).
Ia juga menyoroti lambannya penyaluran SPHP dan sulitnya pengecer mengakses aplikasi Klik SPHP. Menurutnya, tanpa distribusi yang lancar, program pengendalian harga tidak akan efektif.
“Pengecer kesulitan mengakses Klik SPHP. Bulog harus mempermudah, membuatnya simpel, mudah dipahami, dan sosialisasinya harus masif,” ujarnya.
Harga Beras Naik, Stok Sebenarnya Surplus
Data menunjukkan, meski stok beras nasional surplus hingga 10 juta ton, harga di pasar masih melonjak. Bulog sendiri menguasai sekitar 8 persen dari total stok tersebut, dan realisasi penyaluran SPHP baru mencapai sekitar 46 ribu ton hingga pertengahan Agustus—jauh dari target 1,3 juta ton.
Strategi Bulog
Menanggapi desakan DPR, Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mewajibkan setiap gudang menjual minimal 5 ton beras SPHP per hari melalui gerai depan gudang dan mobil keliling pasar. Strategi canvassing juga diterapkan untuk menjangkau pedagang tradisional yang sulit mengakses digital.
Distribusi Mulai Buahkan Hasil
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut harga beras medium dan premium mulai turun di 13 provinsi. Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi memastikan distribusi SPHP dilakukan merata, dengan harga jual maksimal Rp 12.500/kg di Zona 1, disertai pengawasan ketat untuk mencegah penyelewengan.
Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir menegaskan, keberhasilan program ini membutuhkan dukungan pemerintah daerah agar distribusi tidak tersendat.
Pesan Tegas DPR
Bagi Ananda Tohpati, krisis harga beras tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. DPR, katanya, akan terus mengawasi agar Bulog bergerak cepat dan cermat.
“Jangan sampai kebijakan ini hanya berhenti di tumpukan beras di gudang. Rakyat menunggu harga stabil, dan itu tanggung jawab kita semua,” tutupnya.













