Koma.id– Polemik dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo kembali memanas dan terus bergeser ke ranah politik. Presiden ke-7 Republik Indonesia itu menyebut ada agenda politik serta tokoh besar di balik isu yang terus diembuskan terkait keaslian ijazahnya.
Pernyataan Jokowi tersebut memantik reaksi berbagai pihak, termasuk dari mantan Menpora Roy Suryo. Ia menilai cara Presiden Jokowi menanggapi isu ini mencerminkan pola komunikasi khas yang disebutnya sebagai “nabok nyilih tangan” atau memukul dengan meminjam tangan orang lain. Roy menyebut Jokowi kerap menggunakan pihak ketiga atau perantara untuk menyampaikan pesan atau melakukan manuver politik.
Roy juga menyinggung soal kemunculan dokumen ijazah Jokowi versi berwarna yang sebelumnya hanya beredar dalam bentuk fotokopi. Ia menilai kemunculan versi berwarna tersebut sebagai bagian dari strategi komunikasi politik. Diketahui, ijazah versi berwarna itu pertama kali diunggah ke publik oleh salah satu kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi, pada 1 April 2025.
Sementara itu, Ketua Solidaritas Merah Putih Silfester Matutina menjelaskan bahwa persoalan itu sudah selesai karena UGM sebagai kampus yang menerbitkannya sudah menyatakan asli. Dia menuturkan persoalan dugaan ijazah palsu sudah selesai karena sudah melalui pemeriksaan kepolisian juga. Silfester mengatakan akibat kasus ijazah palsu itu membuat Jokowi melaporkan sejumlah pihak karena dugaan pencemaran nama baik.







