Koma.id– Wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mencuat, kali ini menyentuh kalangan purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pengamat intelijen dan geopolitik nasional, Amir Hamzah, memperingatkan bahwa perbedaan pendapat di antara elite purnawirawan TNI tidak hanya sekadar dinamika politik biasa, melainkan berpotensi memengaruhi psikologi dan soliditas internal TNI aktif.
Amir menegaskan, purnawirawan TNI selama ini berperan sebagai kekuatan moral dan politik yang signifikan, sering menjadi penghubung antara militer dan sipil dalam dinamika politik nasional. Namun, polarisasi tajam di antara mereka dalam isu pemakzulan Gibran dinilai sebagai fenomena langka.
Di sisi lain, Analis Politik dan Militer dari Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, menyatakan bahwa wacana ini hanya bisa bergulir jika ada kesepakatan di antara empat tokoh kunci.
Yakni, Presiden Prabowo Subianto, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Ketua Umum NasDem Surya Paloh. Tanpa konsensus mereka, isu ini diprediksi akan mentah.
Selain tantangan politik elite, dua hambatan utama menghadang: prosedur konstitusional yang kompleks dan komposisi kekuatan di parlemen yang tidak mudah diarahkan untuk mendukung pemakzulan.







