Koma.id– Kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, kembali memicu gejolak global. Pada Rabu, 2 April lalu, Trump secara resmi mengumumkan penerapan tarif impor minimum 10 persen terhadap seluruh produk dari berbagai negara, dengan tarif lebih tinggi bagi negara-negara yang dinilai merugikan AS dalam perdagangan internasional.
Tak ayal, langkah tersebut langsung mengguncang pasar global, terutama di kawasan Asia.
Bahkan sehari setelah pengumuman, Kamis 3 April, pasar Asia mengalami koreksi tajam. Investor panik dan beramai-ramai mengalihkan dana ke aset-aset safe haven seperti emas dan dolar AS.
Negara-negara dengan hubungan dagang erat bersama Amerika Serikat pun langsung terdampak. Vietnam dan China menjadi dua negara Asia yang paling terpukul akibat gelombang tarif Trump.
Indonesia tak luput dari imbasnya. Sebagai salah satu pasar besar di kawasan, efek kebijakan ini langsung terasa dalam sektor ekspor dan makroekonomi nasional.
Namun, di tengah situasi global yang memanas, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengambil sikap berbeda.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan terjebak dalam pusaran konflik dagang antara Amerika Serikat dan China dan dalam hal ini tetap bersikap netral.













