Koma.id | Bekasi – Dalam upaya mencetak lulusan berkualitas, Universitas Krisnadwipayana (Unkris) menyelenggarakan Studium Generale. Acara yang menghadirkan sejumlah pakar hukum terkemuka, termasuk Prof. Dr. Gayus T. Lumbuun, S.H., M.H.
Selain Prof. Gayus, acara ini juga dimeriahkan oleh pemaparan dari alumni-alumni berprestasi Unkris yang telah berhasil meraih gelar doktor. Kisah sukses mereka menjadi inspirasi bagi mahasiswa, terutama mereka yang tengah menempuh studi di Fakultas Hukum. Rabu (09/10/22024)
Prof. Dr. Gayus Lumbuun, S.H., M.H. Menggali Teori ‘Keraguan’ dalam Studium Generale di Unkris bertajuk “Yayasan Sebagai Badan Penyelenggara Pendidikan: Menuju Unkris Unggul” di Aula Pendopo, Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi. Acara ini dihadiri oleh sekitar 400 peserta, termasuk mahasiswa dan dosen.
Amir Karyatin, S.H., yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Yayasan Universitas Krisnadwipayana, menyampaikan materi tentang sejarah Unkris yang kaya dan beragam. Diikuti oleh Dr. Donny Cahyadi Foeng, S.H., M.H., alumni Program Doktor Ilmu Hukum yang berhasil meraih predikat Cum Laude, yang memaparkan disertasinya mengenai “Perampasan Aset Hasil Kejahatan Korupsi.” Penyampaian ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa, terutama mereka yang menekuni bidang hukum.
Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Firmanto Laksana, S.H., M.M., M.H., CLA., membagikan pengalaman dan testimoni tentang keunggulan Unkris yang membawanya meraih gelar Doktor dengan predikat Cum Laude. Ia menekankan bahwa keunggulan akademik Unkris merupakan fondasi penting dalam upaya menjadikan perguruan tinggi ini unggul di kancah nasional.

Puncak acara diisi oleh Prof. Dr. Gayus T. Lumbuun, S.H., M.H., yang membahas konsep ‘Keraguan’. Dalam presentasinya, beliau mengangkat tema “Keraguan yang Beralasan Masuk Akal dan Keraguan yang Berlebihan Tidak Masuk Akal,” berdasarkan tulisan David B. Allison dan rekan-rekannya. Prof. Gayus menjelaskan bahwa keraguan adalah bagian dari sifat manusia yang dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pengelolaan institusi pendidikan.
Prof. Gayus menyoroti pentingnya membedakan antara keraguan yang wajar dan tidak wajar, dan menantang mahasiswa untuk menggali lebih dalam tentang tema ini, yang masih tergolong jarang dibahas di kalangan akademisi. Melalui diskusi ini, Prof. Gayus berharap dapat memperluas cakrawala pemikiran mahasiswa mengenai relevansi keraguan dalam dunia akademis dan praktis.
Acara Studium Generale ini tidak hanya menjadi platform untuk bertukar ilmu, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Dengan acara ini, Unkris menunjukkan komitmennya untuk terus mengembangkan potensi akademis dan mempersiapkan generasi unggul di masa depan.







