Koma.id – YouTube tengah bersiap memperbarui kebijakan Monetisasi Program Mitra YouTube (YPP) yang akan mulai berlaku pada 15 Juli 2025. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya konten “tidak autentik” yang banyak diproduksi secara massal, terutama dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Melalui pembaruan ini, YouTube akan memperjelas pedoman mengenai jenis konten yang layak dimonetisasi. Meskipun bahasa kebijakan yang baru belum dirilis secara lengkap, halaman Bantuan YouTube menyebutkan bahwa kreator diwajibkan untuk mengunggah konten yang “asli” dan “orisinil”.
Pembaruan ini disambut dengan kekhawatiran oleh sebagian kreator, terutama pembuat video reaksi dan video klip kompilasi, yang takut pendapatan mereka akan terpengaruh.
Apple Tingkatkan Target Produksi iPhone Lipat Jadi 10 Juta Unit, Siap Meluncur September 2026
Namun, Kepala Editorial & Penghubung Kreator YouTube, Rene Ritchie, menegaskan bahwa perubahan tersebut hanyalah penyempurnaan dari kebijakan lama.
“Ini hanyalah pembaruan kecil yang bertujuan mengidentifikasi konten yang diproduksi secara massal atau berulang,” jelas Ritchie.
Ritchie juga menambahkan bahwa jenis konten tersebut memang sudah lama tidak memenuhi syarat monetisasi karena sering kali dianggap sebagai spam oleh audiens. Namun, perkembangan teknologi AI kini memungkinkan produksi konten seperti itu menjadi jauh lebih cepat dan mudah.
Platform ini kini dibanjiri oleh konten berformat suara AI yang ditempelkan pada foto, video klip, hingga tayangan-tayangan berita palsu yang dihasilkan oleh AI. Beberapa saluran bahkan memiliki jutaan pelanggan hanya dari musik buatan AI.
Kasus yang paling mencolok termasuk serial kejahatan viral buatan AI dan video palsu mengenai peristiwa besar seperti persidangan selebriti. Tak hanya itu, bahkan foto CEO YouTube, Neal Mohan sempat digunakan dalam penipuan phishing berbasis AI, menambah kekhawatiran akan dampak negatif dari konten generatif ini terhadap integritas platform.
Meski disebut sebagai pembaruan kecil, kenyataannya, langkah ini mencerminkan keseriusan YouTube dalam menjaga reputasi serta kualitas kontennya. Banyak pihak memprediksi kebijakan ini bisa membuka jalan bagi pelarangan massal terhadap kreator yang mengandalkan AI generatif untuk menghasilkan konten tidak orisinal.
YouTube kini menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan inovasi teknologi dengan kualitas serta kepercayaan pengguna. Dan dengan pembaruan kebijakan ini, mereka tampaknya memilih untuk lebih tegas menjaga standar keaslian konten di tengah derasnya arus produksi AI.














