Koma.id– Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Rabu (12/8/2026). Pergerakan mata uang Garuda berlangsung di tengah sikap hati-hati investor yang menunggu sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat (AS), terutama data inflasi yang dapat menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka pada posisi Rp17.869 per dolar AS. Level tersebut melemah delapan poin atau sekitar 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di Rp17.861 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di level Rp17.819 per dolar AS pada waktu yang sama. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan dibandingkan pembukaan perdagangan Selasa (11/8/2026) yang tercatat sebesar Rp17.790 per dolar AS.
Pergerakan rupiah tersebut terjadi ketika dolar AS cenderung bergerak terbatas. Pelaku pasar memilih menahan diri sembari mencermati perkembangan terbaru dari perekonomian AS, khususnya data inflasi konsumen dan produsen yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai prospek kebijakan moneter bank sentral AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Menurut proyeksinya, rupiah berpeluang mengalami tekanan lanjutan dengan kisaran pergerakan antara Rp17.860 hingga Rp17.970 per dolar AS.
Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Kondisi geopolitik global juga menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor melakukan penyesuaian terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah perkembangan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia sehingga setiap perkembangan yang mengganggu stabilitas kawasan berpotensi memberikan dampak terhadap sentimen pasar keuangan global.
Ibrahim menyebut terdapat perbedaan klaim antara Washington dan Teheran terkait kondisi Selat Hormuz. Amerika Serikat menyatakan jalur perairan tersebut masih terbuka, sedangkan Iran mengklaim telah melakukan penutupan dengan menggunakan ranjau dan pesawat nirawak.
“Keduanya juga melontarkan klaim yang bertentangan mengenai status Selat Hormuz; Washington menyatakan bahwa jalur perairan tersebut tetap terbuka, sementara Teheran mengklaim telah menutup jalur itu menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone),” ujar Ibrahim.
Situasi tersebut berpotensi memperbesar kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi dan perkembangan harga komoditas global. Jika ketidakpastian meningkat, arus modal dapat bergerak menuju aset yang dianggap lebih aman sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar saat ini juga tertuju pada agenda ekonomi AS. Investor menantikan data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) serta Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI).
Data tersebut akan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar untuk mengukur perkembangan tekanan inflasi di Amerika Serikat. Hasilnya dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap langkah The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga ke depan.
Pasar memperkirakan data CPI AS akan mengalami penurunan. Jika realisasi inflasi sesuai atau lebih rendah dari perkiraan, investor dapat kembali memperhitungkan peluang pelonggaran kebijakan moneter AS. Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan tekanan yang lebih tinggi, ekspektasi terhadap penurunan suku bunga dapat kembali berkurang dan berpotensi menopang dolar AS.
Ketidakpastian dari faktor eksternal tersebut kemudian turut memengaruhi pergerakan rupiah di pasar domestik. Investor masih melakukan kalkulasi terhadap risiko global sebelum menentukan arah penempatan dananya.
Dari dalam negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh agenda peninjauan indeks MSCI pada Agustus 2026. Pengumuman tinjauan tersebut menjadi perhatian investor karena dapat berpengaruh terhadap aliran dana ke pasar modal Indonesia.
Perubahan dalam komposisi maupun pembobotan indeks berpotensi mendorong aksi penyesuaian portofolio oleh investor. Rebalancing yang mulai berlaku setelah 31 Agustus 2026 menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan pasar dalam menentukan strategi investasi.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah sedikit tertahan oleh perkembangan positif dari sisi kebijakan domestik. Penunjukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia dinilai memberikan kepastian lebih besar terkait prospek kepemimpinan bank sentral.








