Koma.id | Jakarta – Perseteruan antara pasangan publik figur Ruben Onsu dan Sarwendah kembali menjadi sorotan setelah Sarwendah mengaku anak-anaknya ikut menjadi korban bullying akibat konflik rumah tangga yang ramai diperbincangkan.
Dalam podcast bersama Denny Sumargo, Sarwendah menangis saat menceritakan anak-anaknya dihujat di lingkungan sekolah dan media sosial. Ia menegaskan bahwa anak-anaknya sopan, berprestasi, dan tidak pernah mengucapkan kata-kata yang ditudingkan publik.
“Anak saya tidak melakukan itu, tapi dihujat,” kata Sarwendah dengan suara bergetar.
Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, menilai ada kemungkinan faktor lain yang menyebabkan anak-anak Sarwendah mengalami bullying. Ia mempertanyakan mengapa sorotan publik seolah hanya tertuju kepada pihak Ruben.
“Kalau memang anak-anaknya di-bully, harusnya sejak preskon pertama ketika disebut Ruben tidak memberi nafkah. Kami tidak pernah bicara apa-apa. Kenapa sepertinya hanya kami yang jadi sorotan,” ujarnya di Jakarta Selatan.
Minola juga menegaskan keinginan Ruben untuk bisa menghabiskan waktu bersama ketiga anaknya tanpa pengawasan. Menurutnya, ada kekhawatiran dari pihak Sarwendah jika anak-anak bertemu Ruben tanpa pendamping karena bisa saja mereka menyampaikan sesuatu secara spontan.
Minola menyinggung cerita Ruben saat melayat orang tua Sarwendah. Ia mengaku terkejut ketika anak-anak menyebut kehadirannya sebagai “pencitraan”. Hal ini, menurut Minola, bisa menjadi alasan pihak Sarwendah khawatir jika anak-anak bertemu Ruben tanpa pengawasan.
Namun, Sarwendah membantah keras tudingan tersebut. Ia menegaskan anak-anaknya tidak pernah memahami istilah “pencitraan”.
“Aku telepon susnya, Nia baru pertama kali dengar kata itu. Tapi dengan kata-kata itu anak saya di-bully di sekolah,” jelas Sarwendah.
Kasus ini menunjukkan bagaimana konflik rumah tangga publik figur dapat berdampak langsung pada anak-anak. Sarwendah mengaku paling takut jika anak-anak mengetahui isu yang beredar di media sosial. Meski berusaha membatasi akses mereka, ia menyadari tidak bisa mengontrol lingkungan pergaulan sepenuhnya.









