Koma.id – Sejumlah rumah di Jalan Telaga Elok 1 Perumahan Telaga Mas Kelurahan Harapan Baru Kecamatan Bekasi Utara Kota Bekasi, dijual pemiliknya akibat kekhawatiran terhadap dampak dari tower Base Transceiver Station (BTS) atau stasiun pemancar yang berdiri di atas rumah salah satu warga.
“Intinya mengganggu kenyamanan kita tinggal disini, makanya saya mau jual saja rumah ini,” ujar Yunia Widi Kartika (38), warga yang tinggal bersebelahan dengan lokasi tower, Rabu (29/1).
Yunia mengaku khawatir terhadap potensi musibah serta dampak jangka panjang akibat paparan radiasi, terutama bagi anak-anaknya.
Tidak hanya dirinya, sedikitnya 10 rumah yang berdekatan dengan tower juga dijual pemiliknya. Namun, rumah-rumah tersebut sulit terjual karena keberadaan tower.
“Dulu sudah ada yang mau beli, sudah tawar-menawar, tapi begitu tahu ada tower ini, mereka batal,” tambahnya.
Warga khawatir keberadaan tower Base Transceiver Station (BTS) dapat membahayakan keselamatan, terutama risiko roboh yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Kekhawatiran ini semakin meningkat setelah insiden ambruknya beton penyangga tower yang mengakibatkan satu pekerja tewas dan enam lainnya mengalami luka-luka.
Sunaryo (58) mengungkapkan pada awal pembangunan dirinya bersama seorang warga lainnya sempat menolak proyek tersebut. Penolakan itu disampaikan langsung ketika rapat pertemuan dengan PT Tower Bersama Group (TBG), perusahaan yang membangun tower tersebut.
Namun, mayoritas warga dalam pertemuan tersebut justru setuju dengan pembangunan tower setinggi 25 meter bercat merah putih itu. Dalam kesempatan kala itu, dia juga mempertanyakan keamanan tower yang didirikan di atas musala.
“Waktu rapat saya sudah bilang ke pihak tower. ‘Pak kalau tower di atas musala kuat gak? Kan dak-dakan cuma 10 cm masa ditumpangin beban segitu beratnya’. Kata dia mau dites dulu. Ya silakan. Kan saya sudah kalah ya. Ternyata kejadian kayak gini,” kata Sunaryo.
Sunaryo menceritakan bahwa sebelum pembangunan dimulai, pengurus RT setempat meminta tanda tangan warga dengan alasan pendataan. Namun, saat itu hanya ibu-ibu rumah tangga yang menandatangani, sehingga tujuan sebenarnya dari pendataan tersebut tidak dijelaskan secara rinci.
Pihak perusahaan telah melakukan sosialisasi sebelum pembangunan dimulai. Dalam sosialisasi tersebut, perusahaan menyampaikan bahwa tower ini digunakan untuk telekomunikasi dan tidak memiliki radiasi besar yang membahayakan masyarakat sekitar.
Setelah insiden ambruknya beton penyangga, Sunaryo dan warga lainnya berharap tower segera dibongkar agar mereka aman.














