Koma.id– Sebuah petisi daring mendesak pencopotan Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dari jabatan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia (UI) telah mengumpulkan lebih dari 3.000 tanda tangan sejak diluncurkan pada 12 September 2025 di platform Change.org.
Petisi ini muncul menyusul kontroversi undangan Peter Berkowitz, seorang akademisi Amerika Serikat yang dikenal mendukung Zionisme, sebagai pembicara dalam acara Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU) UI pada 23 Agustus 2025
Menurut petisi yang digagas oleh komunitas UI Students for Justice in Palestine (UI SJP), Gus Yahya sebagai Ketua MWA UI dinilai bertanggung jawab atas undangan Berkowitz.
Hal ini berdasarkan investigasi media yang mengonfirmasi keterlibatannya dalam mengundang Berkowitz ke kampus UI. Meskipun Gus Yahya telah meminta maaf secara terbuka atas kelalaian dalam pemeriksaan latar belakang narasumber, para penggagas petisi menilai permintaan maaf tersebut tidak cukup untuk menutup konsekuensi moral dan akademis yang timbul
Petisi juga menyoroti rekam jejak Gus Yahya yang dinilai kerap bersinggungan dengan agenda pro-Zionisme, termasuk mengundang Berkowitz dalam Akademi Kepemimpinan Nasional NU 2025, forum agama G20 tahun 2022, dan kunjungan delegasi PBNU ke Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 2018.
UI SJP menegaskan bahwa tindakan ini telah mencoreng nilai-nilai dasar UI, khususnya prinsip keadilan dan kemartabatan, serta bertentangan dengan konstitusi Indonesia yang menentang kolonialisme
Selain itu, komunitas mahasiswa menilai insiden ini telah merusak implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian masyarakat dan pendidikan. Undangan kepada Berkowitz, yang lebih dikenal sebagai tokoh think tank daripada akademisi, dianggap mereduksi nilai akademis UI dan mengabaikan prinsip kemanusiaan universa
Sebagai respons, UI SJP telah melakukan serangkaian aksi, termasuk dialog dengan rektorat, audiensi, dan rencana pembentukan UI Palestine Center (UIPC) untuk memperkuat advokasi kemerdekaan Palestina. Mereka juga mendesak UI untuk menunjukkan komitmen nyata melalui kebijakan anti-Zionisme dan kolaborasi akademik dengan institusi Palestina
“Konsekuensinya tidak bisa diselesaikan hanya dengan permintaan maaf,” demikian salah satu butir dalam petisi.








