Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Panggung Doa dan Rindu Digelar di TIM untuk 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal Hilang di Selat Sunda

×

Panggung Doa dan Rindu Digelar di TIM untuk 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal Hilang di Selat Sunda

Sebarkan artikel ini
Img 20260914 Wa0020
FPS-TIM menggelar Panggung Doa & Rindu: Menunggu Kabar Lima Jurnalis untuk mendoakan lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, di halaman depan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (14/9/2026). (Foto / Istimewa)

Koma.id – Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM) menggelar Panggung Doa & Rindu: Menunggu Kabar Lima Jurnalis untuk mendoakan lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Kegiatan tersebut digelar di halaman depan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (14/9/2026), mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.

Silakan gulirkan ke bawah

Panggung doa tersebut menjadi bentuk kepedulian dan solidaritas para seniman terhadap delapan orang yang hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang kontak saat hendak meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kelima jurnalis tersebut yakni Muhammad Bagus Khoirunas dari LKBN ANTARA Biro Banten, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis foto lepas.

Sementara tiga awak kapal yang ikut dalam perjalanan tersebut yakni Warta sebagai kapten atau nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu wisata.

Kedelapan orang tersebut berangkat menggunakan perahu cepat dari Dermaga Pardongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

Mereka berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas vulkanik.

Namun, rombongan tidak kunjung kembali hingga malam hari. Perwakilan media bersama keluarga kemudian melaporkan hilangnya rombongan kepada Basarnas Banten pada Selasa (8/9/2026).

Sejak saat itu, operasi pencarian dilakukan Tim SAR gabungan dengan melibatkan berbagai unsur dan mengerahkan sejumlah kapal serta sarana pendukung lainnya.

Puisi dan Musik

Dalam kegiatan di TIM, rangkaian acara diawali dengan pembacaan doa untuk delapan orang yang masih dalam pencarian.

Doa dipimpin oleh Ustaz Yogi dan Rinaldho.

Setelah itu, sejumlah penyair dijadwalkan membacakan puisi sebagai bentuk ungkapan kehilangan sekaligus harapan agar seluruh korban segera ditemukan.

Para penyair yang tampil antara lain Megawati Nurdin, Den Cupank, Tuti, Ina SK, Yon Bayu, Dyah Kencono Puspito, dan Nuyang Jaimee.

Pertunjukan musik juga menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Musik Merata bersama Dompak Reflag turut tampil untuk mengiringi acara solidaritas tersebut.

Selain pertunjukan seni, sejumlah jurnalis yakni Paimo, Chapunk, Yon Bayu, dan Cupank turut menyampaikan testimoni.

Testimoni tersebut membahas peristiwa hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal sekaligus pengalaman serta suka duka yang dihadapi para pewarta dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Seribu Lilin untuk Korban

Pada penghujung acara, panitia mengajak seluruh peserta menyalakan seribu lilin.

Penyalaan lilin dilakukan sebagai simbol doa, harapan, dan solidaritas bagi lima jurnalis serta tiga awak kapal yang masih belum diketahui keberadaannya.

Seribu lilin tersebut dinyalakan bersama dengan menyanyikan lagu Tanah Airku.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama agar seluruh korban segera ditemukan dalam kondisi selamat.

Panggung Doa & Rindu menjadi ruang bagi para seniman, jurnalis, dan masyarakat untuk bersama-sama menyampaikan dukungan kepada keluarga serta rekan-rekan dari delapan orang yang masih dalam pencarian.

FPS-TIM

FPS-TIM merupakan aliansi seniman yang selama ini menyuarakan penolakan terhadap pengelolaan kawasan Taman Ismail Marzuki yang dinilai terlalu berorientasi pada kepentingan komersial.

Aliansi tersebut mendorong agar TIM dikembalikan pada marwah awalnya sebagai ruang berkesenian dan rumah bagi para seniman Indonesia.

Gagasan tersebut merujuk pada tujuan awal pendirian TIM yang dicetuskan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, yakni menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang bagi para seniman untuk berkarya dan mengembangkan kehidupan kesenian.

FPS-TIM secara rutin menggelar kegiatan seni melalui Jumat Aksi Seni (JAS) setiap Jumat di Selasar Teater Kecil TIM.

Kegiatan tersebut diisi dengan berbagai pertunjukan musik, diskusi seni dan sastra, serta pembacaan puisi.

Selain menjadi ruang ekspresi seni, JAS juga pernah digunakan untuk kegiatan solidaritas sosial, termasuk penggalangan dana bagi korban bencana di Nusa Tenggara Timur.

Melalui Panggung Doa & Rindu, FPS-TIM kembali menggunakan seni sebagai medium untuk menyuarakan kepedulian sekaligus menjaga harapan agar lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di perairan Selat Sunda segera ditemukan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.