Koma.id – Budaya atau kebudayaan suatu daerah sering dipakai untuk menggambarkan ciri khas masyarakat dari daerah tersebut. Mendefinisikan budaya/kebudayaan untuk diterjemahkan sebagai aset suatu daerah perlu dibagi dalam dua aspek yaitu cagar budaya (fisik/kebendaan) dan objek pemajuan kebudayaan (OPK). Di Kabupaten Teluk Wondama (Suku besar Wandamen) sendiri memiliki berbagai potensi budaya/kebudayaan lokal yang sebenarnya bisa dikembangkan dan berpotensi menjadi aset daerah/mendorong nilai ekonomi masyarakat. Baik itu secara potensi cagar budaya (fisik) ataupun objek pemajuan kebudayaan (nilai/tradisi) dalam suatu lingkungan hidup masyarakat berbudaya Wandamen.
Cagar Budaya
Indonesia dalam Siklus 30 Tahunan
Di Teluk Wondama terdapat beberapa jenis cagar budaya sebagai peninggalan masa lalu berupa fisik/kebendaan yang memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, atau budaya yang sangat penting. Bentuk fisik berupa Benda (senjata kuno, piring gantung, arca), Bangunan (gereja tua, rumah adat), Struktur (situs bekas pemukiman), Situs/Kawasan bersejarah seperti jejak sejarah pekabaran Injil, peninggalan perang dunia II serta warisan peninggalan nenek moyang.
Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK)
Objek Pemajuan Kebudayaan adalah kekayaan budaya takbenda berupa tradisi hidup, pengetahuan, seni, dan kebiasaan yang diwariskan dari nenek moyang secara turun-temurun. Ada 10 Unsur OPK yaitu Tradisi Lisan, Manuskrip, Adat Istiadat, Ritus, Pengetahuan Tradisional, Teknologi Tradisional, Seni, Bahasa Daerah, Permainan Rakyat, dan Olahraga Tradisional. Contoh di Teluk Wondama: kuliner tradisional, tarian tradisional dansa adat, musik tradisional, perahu tradisional, ramuan obat tradisional, cerita rakyat Wondama, ukiran khas Wondama dll.
Suyudi: Kapolri Pecinta Bambu dan Budaya
Pertemuan Aspek Budaya & Pendidikan Modern – Wondama Neg’ri Peradaban
Dalam mendesain road map pembangunan suatu daerah, tentu kita perlu menetapkan/meletakan dasar sebagai pijakan arah pembangunan daerah tersebut. Kabupaten Teluk Wondama ketika itu (12 April 2003) berdiri sendiri sebagai daerah otonom/suatu kabupaten dari kabupaten induk Manokwari dengan modal juga karena sebagai tempat atau kota pusat peradaban/pendidikan pertama bagi orang asli Papua (Aitumieri 1925). Harapannya dengan modal baik Sejarah Peradaban orang Papua ini, bisa menginspirasi kepemimpinan dan juga generasi Wondama saat ini untuk tidak melupakan road map awal pembangunan Kab. Teluk Wondama.
Ketika pemahaman kita tentang Sejarah Peradaban Orang Papua di Wondama lewat Pendidikan pertama di Aitumieri ini bisa dipahami dan dikerjakan dengan benar, dan memahami potensi dasar Kebudayaan yang terkandung di Wondama maka pembangunan Kab. Teluk Wondama kedepan untuk benar² menjadi ikon Kota Peradaban/Pendidikan Orang Papua yang berdaya ini bisa terwujud sesuai harapan kita bersama.
Arie Waropen
Ketua Umum SGM-Papua














