Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaDaerahNasional

Kabut Asap Perburuk Kualitas Udara Gorontalo, Dinkes Imbau Gunakan Masker

×

Kabut Asap Perburuk Kualitas Udara Gorontalo, Dinkes Imbau Gunakan Masker

Sebarkan artikel ini
Wajib Masker Asap

Koma.id | Gorontalo – Kualitas udara di Provinsi Gorontalo dilaporkan memburuk dalam beberapa hari terakhir. Data terbaru menunjukkan empat kabupaten masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, sementara Kota Gorontalo berada di ambang kategori tersebut.

Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan yang dirilis Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Provinsi Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara mencatat kualitas udara terburuk dengan nilai Air Quality Index (AQI) sebesar 114 per 11 Oktober 2026.

Silakan gulirkan ke bawah

Kedua wilayah tersebut juga mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 40,9 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang batas harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Selain itu, Kabupaten Pohuwato mencatat AQI 109 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 38,7 mikrogram per meter kubik. Kabupaten Boalemo berada pada AQI 108 dengan PM2.5 mencapai 38,5 mikrogram per meter kubik.

Keempat daerah tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif atau berada pada rentang AQI 101 hingga 150. Kelompok sensitif yang dimaksud meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan dan jantung.

Sementara itu, Kota Gorontalo mencatat AQI sebesar 99 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 34,8 mikrogram per meter kubik. Meski masih berada dalam kategori sedang, angka tersebut sudah mendekati kategori tidak sehat.

Kondisi memburuknya kualitas udara terlihat dari munculnya kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah. Jarak pandang di beberapa daerah dilaporkan menurun, sementara langit tampak berwarna putih keabu-abuan sepanjang hari.

Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menyebut penurunan kualitas udara dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor, antara lain kondisi cuaca, arah angin, aktivitas vulkanik, serta dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghasilkan kabut asap.

Selain itu, emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri turut memperburuk kondisi udara di sejumlah wilayah.

Kepala Dinkes PPKB Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama kualitas udara masih berada pada level yang berisiko bagi kesehatan.

“Ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Gunakan masker yang sesuai saat beraktivitas di luar ruangan dan kurangi kegiatan yang tidak mendesak, terutama bagi kelompok rentan,” ujarnya.

Menurut Anang, paparan partikel PM2.5 dalam jangka waktu tertentu dapat memicu berbagai gangguan kesehatan seperti iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga memperparah penyakit asma dan gangguan jantung.

Dinkes juga meminta masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kabut asap terlihat pekat, menggunakan masker saat bepergian, serta menutup pintu dan jendela rumah guna mengurangi paparan polusi dari luar.

Warga yang mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, mengi, iritasi mata, atau sesak napas diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah dan otoritas kesehatan guna mengantisipasi potensi dampak kesehatan yang lebih luas.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.