Koma.id, JAKARTA TIMUR – Membangun lingkungan yang bersih, nyaman, dan berkelanjutan ternyata tidak cukup hanya dengan mengajak warga memilah sampah. Ada fondasi penting yang harus dibangun terlebih dahulu, yakni keamanan. Pesan tersebut disampaikan Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, IPTU Imam Basori yang akrab disapa Ibas, saat sosialisasi pemilahan sampah di Kelurahan Pinang Ranti, Jakarta Timur.
Kegiatan ini dihadiri Wakil Camat Nur Hilal, Lurah Pinang Ranti Nani, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Ibu Raja, serta para pengurus RT/RW, kader PKK, dan Dasawisma Kelurahan Pinang Ranti.
Di hadapan para peserta, Ibas membagikan pengalaman membangun lingkungan melalui inovasi Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan), sebuah konsep pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan keamanan, pengelolaan lingkungan, pendidikan, dan ekonomi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
“Kalau kita ingin membangun sebuah lingkungan, jangan langsung bicara soal sampah. Kita harus mulai dari keamanan. Ketika lingkungan sudah aman, warga akan merasa nyaman. Dari situ, kita bangun lingkungan yang produktif dan berkelanjutan,” ujar Ibas.
Menurutnya, keamanan merupakan kebutuhan mendasar masyarakat. Persoalan seperti pencurian kendaraan bermotor hingga kekhawatiran terhadap peredaran narkoba menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui sistem keamanan lingkungan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Melalui pilar pertama Bang Jali, yakni keamanan, RT 11 menerapkan sejumlah inovasi berbasis teknologi, di antaranya e-Gate 11 atau gerbang pintar, GPS, CCTV yang dapat dipantau melalui ponsel, Si Jaga Warga melalui pengeras suara, Alarm Panic Button, serta Patrolink untuk mendukung kegiatan patroli Satkamling.
“Teknologi harus kita manfaatkan untuk menjawab keresahan masyarakat. Keamanan bukan hanya soal menjaga gerbang, tetapi bagaimana warga merasa terlindungi dan bisa beraktivitas dengan tenang,” jelasnya.
Setelah fondasi keamanan dibangun, Bang Jali memasuki pilar kedua, yaitu lingkungan, dengan fokus pada pengelolaan sampah dari sumbernya. Ibas menilai, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengangkut dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir. Perlu perubahan kebiasaan masyarakat agar sampah dapat dipilah dan diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Komling (Kompos Keliling), sebuah sistem penjemputan sampah organik dari rumah warga. Program ini dilengkapi jingle “Komling Mania” untuk membuat kegiatan pemilahan sampah lebih menarik dan mudah diingat masyarakat.
Selain itu, terdapat KOMA (Komposter Mandiri) untuk mengolah sampah organik menjadi kompos serta Smart Geprek, inovasi untuk memadatkan sampah anorganik seperti botol plastik dan kaleng agar lebih mudah dikelola.
Ibas menjelaskan, pengolahan sampah organik melalui sistem komposter yang digunakan ditargetkan dapat berlangsung sekitar enam jam, bergantung pada proses dan teknologi yang diterapkan. Dengan pendekatan tersebut, sampah dapur diharapkan tidak lagi sekadar menjadi beban, melainkan dapat menghasilkan produk yang berguna bagi lingkungan.
“Prinsip kami, sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dipilah dan dikelola sesuai jenisnya. Jadi, warga bukan hanya membuang sampah, tetapi ikut menciptakan manfaat,” ungkap Ibas.
Inovasi Bang Jali tidak berhenti pada keamanan dan lingkungan. Pilar ketiga adalah pendidikan, melalui Pojok Baca dan program RT Inggris yang mendorong warga belajar bahasa Inggris di lingkungan tempat tinggal. Program tersebut melibatkan berbagai kalangan dan mendapat perhatian publik karena menghadirkan ruang belajar yang dekat, inklusif, dan mudah diakses masyarakat.
Sementara pilar keempat adalah ekonomi, melalui RT11Mart yang berfokus pada pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) warga. Program ini diharapkan membantu produk dan usaha masyarakat mendapatkan ruang promosi sekaligus memperkuat perputaran ekonomi di tingkat lingkungan.
Bagi Ibas, keempat pilar tersebut saling berkaitan. Lingkungan yang aman menciptakan kenyamanan, lingkungan yang bersih mendukung kualitas hidup, pendidikan memperkuat kapasitas masyarakat, dan ekonomi membantu meningkatkan kesejahteraan warga.
Ia berharap pengalaman RT 11 RW 7 Gandaria Utara dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain, termasuk Kelurahan Pinang Ranti, untuk mengembangkan inovasi sesuai kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat.
“Intinya, jangan hanya membangun fasilitas, tetapi bangun juga kebiasaan dan partisipasi warganya. Teknologi membantu, tetapi keberhasilan sebuah inovasi tetap ditentukan oleh keterlibatan masyarakat,” tegasnya.
Melalui sosialisasi ini, pemilahan sampah diharapkan tidak berhenti sebagai imbauan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang dimulai dari rumah, diperkuat oleh lingkungan RT/RW, dan memberikan dampak nyata bagi kota.
Bang Jali membawa satu pesan penting: lingkungan yang hebat bukan hanya lingkungan yang bersih, tetapi juga aman, cerdas, produktif, dan mampu menyejahterakan warganya.













